RSS

Teknik Sampling

D. Teknik sampling
Sebelum dibahas lebih lanjut mengenai teknik sampling, terlebih dahulu akan dibahas mengenai tipe-tipe metode sampling. Mengenai tipe-tipe metode sampling ini Babbie, menggolongkan menjadi dua tipe yaitu:
1. Sampling probabilitas (probability sampling),
2. Sampling nonprobabilitas (nonprobability sampling).
Sampling probabilitas adalah teknik sampling di mana semua individu dalam populasi memiliki peluang yang sama untuk dipilih menjadi sampel. Teknik ini mendasarkan diri pada mekanisme pemilihan sampel secara random. Dalam hal sebaliknya, yaitu apabila pemilihan sampel tidak menggunakan mekanisme pemilihan secara random, dikategorikan sebagai sampling nonprobabilitas. Selanjutnya sebagaimana yang terdapat dalam buku-buku metodologi penelitian seperti misalnya Kerlinger (2000), dan Babie (2004), dari kedua tipe sampling tersebut masing-masing dikembangkan menjadi sejumlah teknik sampling, yaitu:
Sampling probabilitas memiliki beberapa teknik, yaitu:
1. Random sampling sederhana (simple random sampling);
2. Sampling sistematis (systematic sampling);
3. Sampling bertingkat (stratified sampling)
4. Cluster sampling (cluster sampling)
5. Sampling bertahap (stage sampling)

Technorati Tags: , , , ,

 
Leave a comment

Posted by on January 27, 2008 in Metodologi Penelitian

 

Perumusan Masalah

A. Pengertian Masalah Penelitian
Dalam pengertian umum, masalah penelitian adalah suatu pertanyaan atau pernyataan yang menyatakan tentang situasi yang memerlukan pemecahan melalui penelitian, atau keputusan atau perlu didiskusikan. Secara lebih spesifik, masalah penelitian merupakan pertanyaan yang menanyakan hubungan antar variabel penelitian. Pengertian lain menunjukkan bahwa masalah merupakan kesenjangan antara situasi yang diharapkan dengan situasi yang ada. Dapat juga dikatakan sebagai kesenjangan antara tujuan yang ingin dicapai dengan keterbatasan alat dan sumberdaya yang dimiliki untuk mencapai tujuan tersebut. Masalah juga dapat dikatakan sebagai kesenjangan antara teori dan praktik.
Untuk menjadi suatu masalah penelitian khususnya penelitian survei, harus memenuhi beberapa kriteria sebagai berikut:
1. Suatu masalah penelitian harus menggambarkan hubungan antara dua variabel atau lebih.
2. Walaupun tidak merupakan suatu keharusan bahwa suatu masalah harus dinyatakan dalam bentuk pertanyaan, akan tetapi banyak ahli penelitian menyarankan bahwa masalah penelitian hendaknya dinyatakan dalam bentuk pertanyaan. Mengapa dalam bentuk pertanyaan? Suatu masalah penelitian yang dinyatakan dalam bentuk pertanyaan akan lebih mengarahkan pada jawaban yang diharapkan. Dengan bentuk pertanyaan, jawabannya akan lebih jelas dan langsung pada sasarannya.
3. Suatu masalah penelitian memerlukan pengujian secara empirik. Pengujian empirik berarti bahwa pemecahannya dilandasi oleh bukti-bukti empirik yang diperoleh dari lapangan, dengan jalan mengumpulkan data yang relevan.

Technorati Tags: , ,

 
Leave a comment

Posted by on January 27, 2008 in Metodologi Penelitian

 

Herpes Zoster Otikus

Herpes Zoster Otikus adalah infeksi virus pada telinga dalam, telinga tengah dan telinga luar. HZO manifestasinya berupa otalgia berat yang disertai dengan erupsi kulit biasanya pada CAE dan pinna. Bila disertai dengan paralisis n VII maka disebut sebagai Ramsay Hunt Syndrome. Patofisiologi : merupakan reaktifasi dari varicella-zoster virus (VZV) yang terdistribus sepanjang saraf sensoris yang menginervasi telinga, termasuk didalamnya ganglion genikulatum. Apabila gejala disertai kurang pendengaran dan vertigo, maka ini adalah akibat penjalaran infeksi virus langsung pada N. VIII pada posisi sudut serebelo pontin, atau melalui vasa vasorum. Anamnesis disertai riwayat : nyeri dan terasa panas pada sekitar telinga, wajah, mulut dan lidah. Vertigo, nausea, muntah. Kurang pendengaran, hiperakusis, tinitus. Rasa sakit pada mata, lakrimasi. Vesikel bisa muncul sebelum, selama maupun sesudah terjadinya paralisis n VII.

Perlu ditanyakan riwayat pernah terkena cacar air sebelumnya, bahkan saat masih kecil. Terapi : sampai saat ini sifatnya hanya suportif misalnya kompres hangat analgetik narkotika dan antibiotika untuk mencegah sekunder infeksi. Sebenarnya antivirus memberikan efek yang baik yaitu penyakit menjadi tidak terlalu berat dan cepat membaik.

A 28-year-old Asian man presented to the Ben Taub General Hospital with right facial hemiparesis, a varicelliform rash in his right conchal bowl and lateral external auditory canal, and severe right otalgia. He described a gradual onset of right otalgia followed by right conchal bowl erythema and edema three days before presentation. He began having dry mouth and decreased taste over the right side of his tongue just prior to the development of the rash. The rash and facial nerve palsy were noted simultaneously. He had no complaints of dizziness, vertigo, or tinnitus but did have decreased hearing in the right ear. There was no past history of varicella infection. Physical examination revealed a thin Asian man with stable vital signs and no fever. A rash composed of vesicles of different ages filled the conchal bowl and lateral external auditory canal. The tympanic membrane had no lesions and the chorda tympani nerve could not be seen. Minimal forehead movement and near complete eye closure were noted with no other facial motor function on the right side. Otologic examination was normal on the left. The remainder of the neurological examination was without abnormality. Schirmer testing revealed bilaterally symmetrical tearing to 2 centimeters.

Audiometric analysis showed mild sensorineural hearing loss to 2000 Hz on the right side with moderate sensorineural loss above 4000 Hz bilaterally. No crossed stapedial reflex could be elicited on the left. The tympanogram was type A on the left and type B on the right.

 
Leave a comment

Posted by on January 9, 2008 in telinga

 

Tags: , , , , ,

RINITIS VASOMOTOR

Dikutip dari : Yunita A. Rinitis Vasomotor, ©2003 Digital by USU digital
library

Rinitis vasomotor aadalah terdapatnya gangguan fisiologik lapisan mukosa hidung yang disebabkan oleh bertambahnya aktivitas parasimpatis. Kelainan ini merupakan keadaan yang non-infektif dan non-alergi.
Rinitis vasomotor mempunyai gejala yang mirip dengan rinitis alergi sehingga sulit untuk dibedakan. Pada umumnya pasien mengeluhkan gejala hidung tersumbat, ingus yang banyak dan encer serta bersin-bersin walaupun jarang. Etiologi yang pasti belum diketahui, tetapi diduga sebagai akibat gangguan keseimbangan fungsi vasomotor
dimana sistem saraf parasimpatis relatif lebih dominan. Keseimbangan vasomotor
ini dipengaruhi oleh berbagai faktor yang berlangsung temporer, seperti emosi,
posisi tubuh, kelembaban udara, perubahan suhu luar, latihan jasmani dansebagainya, yang pada keadaan normal faktor-faktor tadi tidak dirasakan sebagai gangguan oleh individu tersebut.

Penatalaksanaan rinitis vasomotor bergantung pada berat ringannya gejala dan
dapat dibagi atas tindakan konservatif dan operatif. Beberapa faktor yang
mempengaruhi keseimbangan vasomotor :
1. obat-obatan yang menekan dan menghambat kerja saraf simpatis, seperti ergotamin, chlorpromazin, obat anti hipertensi dan obat vasokonstriktor topikal.
2. faktor fisik, seperti iritasi oleh asap rokok, udara dingin, kelembaban udara yang tinggi dan bau yang merangsang.
3. faktor endokrin, sepeti keadaan kehamilan, pubertas, pemakaian pil anti hamil dan hipotiroidisme.
4. faktor psikis, seperti stress, ansietas dan fatigue.

DIAGNOSIS
Dalam anamnesis dicari faktor yang mempengaruhi keseimbangan vasomotor dan disingkirkan kemungkinan rinitis alergi.
Biasanya penderita tidak mempunyai riwayat alergi dalam keluarganya dan keluhan dimulai pada usia dewasa. Beberapa pasien hanya mengeluhkan gejala sebagai respon terhadap paparan zat iritan tertentu tetapi tidak mempunyai keluhan apabila tidak terpapar.

Pada pemeriksaan rinoskopi anterior tampak gambaran klasik berupa edema
mukosa hidung, konka hipertrofi dan berwarna merah gelap atau merah tua (karakteristik), tetapi dapat juga dijumpai berwarna pucat. Permukaan konka dapat licin atau berbenjol ( tidak rata ). Pada rongga hidung terdapat sekret mukoid, biasanya
sedikit. Akan tetapi pada golongan rinore, sekret yang ditemukan bersifat serosa
dengan jumlah yang banyak. Pada rinoskopi posterior dapat dijumpai post nasal
drip.

Pemeriksaan laboratorium dilakukan untuk menyingkirkan kemungkinan
rinitis alergi. Test kulit ( skin test ) biasanya negatif, demikian pula test RAST, serta kadar Ig E total dalam batas normal. Kadang-kadang ditemukan juga eosinofil pada sekret hidung, akan tetapi dalam jumlah yang sedikit. Infeksi sering menyertai yang ditandai dengan adanya sel neutrofil dalam sekret.

Beda RInitis ALergi dan Vasomotor

ciri-rinitis-vasomotor.jpg

Pengobatan rinitis vasomotor bervariasi, tergantung kepada faktor penyebab
dan gejala yang menonjol.
Secara garis besar, pengobatan dibagi dalam :
1.Menghindari penyebab / pencetus ( Avoidance therapy )
2. Pengobatan konservatif ( Farmakoterapi ) :
- Dekongestan atau obat simpatomimetik digunakan untuk mengurangi
keluhan hidung tersumbat. Contohnya : Pseudoephedrine dan Phenylpropanolamine oral serta Phenylephrine dan Oxymetazoline (semprot hidung ).
- Anti histamin : paling baik untuk golongan rinore.
- Kortikosteroid topikal mengurangi keluhan hidung tersumbat, rinoredan bersin-bersin dengan menekan respon inflamasi lokalyang disebabkan oleh mediator vasoaktif. Biasanya digunakan sedikit selama 1 atau 2 minggu sebelum dicapai hasil yang memuaskan. Contoh steroid
topikal : Budesonide, Fluticasone, Flunisolide atau Beclomethasone
- Anti kolinergik juga efektif pada pasien dengan rinore sebagai keluhan utamanya.Contoh : Ipratropium bromide ( nasal spray )
3. Terapi operatif ( dilakukan bila pengobatan konservatif gagal ) :
- Kauterisasi konka yang hipertrofidengan larutan AgNO3 25% atau triklorasetat pekat (chemical cautery ) maupunsecara elektrik ( electrical cautery ).
- Diatermi submukosa konka inferior (submucosal diathermy of the inferior turbinate )
- Bedah beku konka inferior ( cryosurgery )
- Reseksi konka parsial atau total (partial or total turbinate resection)
- Turbinektomi dengan laser ( laser turbinectomy )
- Neurektomi n. vidianus ( vidian neurectomy ),

Technorati Tags:

 
Leave a comment

Posted by on January 6, 2008 in hidung

 

Soal-soal Prof X3

1. Otoskopi yang dilihat apa saja dan kira kira penyebabnya ?

  • Perforasi :OMA stad III, OMK, trauma
  • Retraksi : oklusio tubae, OM adhesiva
  • Atrofi : OME
  • Bulging : OMA

2. Apakah saudara tahu bahwa ada mastoiditis yang disebabkan bukan karena OM, lalu karena apa ? Otitis Eksterna maligna dab kolesteatoma kongenital
OE Maligna : radang pada isthmus CAE karena kuman pseudomonas menyusuri basis kranii kemudian masuk ke foramen stilomastoid kemudian ke mastoid sehingga menjadi mastoiditis.
Kolesteatoma kongenital : sel-sel embrional dati ektoderm tertinggal di daerah mastoid kemudian terjadi mastoiditis
DD untuk telinga bau apa saja :
1. kolestetoma di liang telinga atau di cavum timpani
2. serumen basah
3. mastoiditis koalesen
4. malignansi di liang telinga atau rongga telinga tengah.
5. OMK infeksi kuman Coli.
6. Kelumpuhan n. 7 derajatnya ada berapa macam ( ada 2 sistem ):
Slunderland :

  • Blokade fisiologi
  • Ruptura Axon
  • Ruptura Axon dan endoneurium
  • Ruptura Axon, endoneurium dan perineurium
  • Ruptura Axon, endoneurium, perineurium dan epineurium

Klasik :

  • neuropraksia
  • axonotmesis
  • neurotmesis

7. Sistem keseimbangan pada manusia apa saja dan bagaimana cara memeriksanya ?
sistem vestibuler
sistem okuler
sistem propioseptif
Cara pemeriksaan :
posisi nistagmus
nistagmografi
Romberg, Babinski Weil, Modifikasi Romberg

 
Leave a comment

Posted by on January 3, 2008 in soal soal ujian

 

Soal jwb dr. X1

1. Apa itu inverted papiloma ?

  •      tumor jinak dan etiologinya karena virus.
  •      unilateral
  •      lebih padat dari polip, PA tidak melewati sel basal.
  •      bisa mengalami degenerasi keganasan
  •      dapat sembuh dengan operasi, polip sulit sembuh krn etiologinya alergi.

2. Sinusitis, bagaimana pembagian sinusitis pada umumnya? dan apa kepentingan pembagian tersebut ?
jawab berdasar penyebabnya :

  • sinusitis odontogen
  • sinusitis rinogen

berdasar stadiumnya :

  • sinusitis akut < 4 minggu
  • sub akut 4 mgg-3bln
  • kronil 3 bln

Berdasar lokasi

  • sinusitis maksila
  • sinusitis ethmoid
  • sinusitis sfenoid
  • sinusitis frontalis

3. Bagaimana prinsip pengobatan sinusitis odontogen ?
menghilangkan fokal infeksi, irigasi, antibiotika tidak ada perbaikan operatif.

4. Kapan seorang anak pilek dicurigai sinusitis ?

  • pilek ingus kental > 10 hari
  • napas bau
  • hidung tersumbat
  • sakit kepala, demam pada yang akut
  • pada pemeriksaan sekret mukopurulen tertimbun di kavum nasi.
  • batuk produktif
  • post nasal drip

5. Apa saja yang merupakan faktor predisposisi untuk terjadinya sinusitis pada anak ?
benda asing yang lama
adenoid hipertrofi
rinitis alergi
sindroma siliostatis

6. Reaksi laergi jelaskan sampai bisa terjadi gejala rinitis alergi ?
alergen + 2 molekul IgE kemudian degranulasi sel mast/ basofil selanjutnya release mediator histamin yang meberi efek pada pembuluh darah , ujung saraf dan kelenjar mukosa.

7. Jelaskan sedikit mekanisme desensitisasi sehingga dapat mengurangi gejala klinik : blocking antibodi ( persaingan IgG – IgE), keseimbangan Th1 TH2,  jumlah dan sensitifitas IgE berkurang,  sensitifitas sel mast dan basofil berkurang.
faktor yang berpengaruh : pemilihan jenis alergen, dosis alergen, keteraturan suntikan dan pemaparan alergi lingkungan.

8. Jelaskan peran eosinofil pada reaksi inflamasi alergi ?
diperantarai mediator dalam eosinofil : MBP, ECP, EDP yang bersifat sitotoksik sehingga mengakibatkan eksfoliasi epitel dan mukosa menjadi lebih terbuja akan mengakibatkan hipereaktifitas.

 
Leave a comment

Posted by on January 3, 2008 in soal soal ujian

 

Tuba Auditiva Eustachii

Tuba Auditiva Eustahii merupakan pipa sempit yang menghubungkan kavum timpani dan nasofaring, panjangnya 3,5 mm. Anatomi tuba dibagi menjadi 2 bagian yaitu : pars osseus dan pars kartilago.
Pars oseus pada 1/3 lateral, selalu terbuka
Pars kartilago pada 2/3 medial dan selau tertutup oleh karena :

  • kontraksi otot perituba,
  • daya adesi zat mukous
  • perbedaan tekanan udara kavum timpani dan nasofaring
  • elastisitas kartilago

Otot -otot yang berperan pada pembukaan tuba ada 7 :

  1. m. levator velli palatini
  2. m. tensor velli palatini
  3. m. tensor timpani
  4. m.salphingofaringeus
  5. m. glosofaring
  6. m. konstriktor faring superior
  7. m. stapeideus

Tuba pada anak lebih pendek, lebih horisontalda lebih lebar, karena itu sering mengalami OMA.

Technorati Tags: , , ,

 
Leave a comment

Posted by on January 1, 2008 in telinga

 
 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.