RSS

Variabel Penelitian

Variabel penelitian juga dapat dibedakan menjadi:
1. Variabel bebas (independent variable),
2. Variabel terikat (dependent variable)
Penggolongan tersebut dilakukan berdasarkan sifat hubungan antar variabel. Dalam hal ini sifat hubungannya adalah hubungan kausalitas. Variabel bebas juga sering disebut variabel antecedent, dan variabel terikat disebut qonsequent. Variabel bebas ialah variabel yang oleh peneliti diperkirakan menjadi penyebab munculnya atau berubahnya variabel terikat. Sedang variabel terikat ialah variabel yang terjadi atau muncul atau berubah karena mendapat pengaruh atau disebabkan oleh variabel bebas. Di antara hubungan antara variabel bebas dan variabel terikat tersebut terdapat variabel-variabel perantara (moderator), variabel pengganggu (intervening variable), dan variabel pengendali variabel lain (control variable).

Technorati Tags:

 
1 Comment

Posted by on January 27, 2008 in Metodologi Penelitian

 

Simple Random Sampling

1. Simple Random Sampling
Simple random sampling adalah suatu tipe sampling probabilitas, di mana peneliti dalam memilih sampel dengan memberikan kesempatan yang sama kepada semua anggota populasi untuk ditetapkan sebagai anggota sampel. Dengan teknik semacam itu maka terpilihnya individu menjadi anggota sampel benar-benar atas dasar faktor kesempatan (chance), dalam arti memiliki kesempatan yang sama, bukan karena adanya pertimbangan subjektif dari peneliti. Teknik ini merupakan teknik yang paling objektif, dibandingkan dengan teknik-teknik sampling yang lain. Teknik sampling secara random dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu:
a. Menggunakan cara undian.
b. Menggunakan tabel bilangan random.

a. Cara Undian
Cara undian, dilakukan dengan menggunakan prinsip-prinsip undian. Langkah-langkahnya adalah sebagai berikut:
1) Peneliti mendaftar semua anggota populasi;
2) Setelah selesai didaftar, kemudian masing-masing anggota populasi diberi nomor, masing-masing dalam satu kertas kecil-kecil;
3) Kertas-kertas kecil yang masing-masing telah diberi nomor tersebut kemudian digulung atau dilinting;
4) Gulungan atau lintingan kertas yang telah berisi nomor-nomor tersebut, kemudian dimasukkan ke dalam suatu tempat (misalnya kotak atau kaleng) yang dapat digunakan untuk mengaduk sehingga tempatnya tersusun secara acak (sembarang);
5) Setelah proses pengadukan dianggap sudah merata, kemudian peneliti atau orang lain yang diawasi peneliti, mengambil lintingan kertas satu per satu sampai diperoleh sejumlah sampel yang diperlukan.
Cara undian ini sangat sederhana dan mudah digunakan, cocok digunakan untuk jumlah sampel yang kecil, namun untuk digunakan terhadap jumlah populasi yang besar, akan menjadi tidak efisien.

b. Tabel Bilangan Random
Cara ini juga sangat mudah diimplementasikan dalam penelitian survei. Para peneliti survei dapat menggunakan tabel bilangan random yang sudah tersedia di sejumlah buku metodologi penelitian, yang secara khusus membahas tentang teknik sampling. Dibandingkan dengan random cara undian, cara ini lebih mudah dan praktis, dan dapat digunakan pada jumlah sampel yang cukup besar. Tabel berikut adalah salah satu contoh penggunaan tabel bilangan random:
10480 15011 01536
22368 46573 25595
12430 48360 22527
42167 93093 06243
37570 39975 81837
77921 06975 11008
99562 72905 56420
96301 91977 05463
89579 14342 63661
85475 36857 53342
28918 69578 88231
63553 40961 48235
09429 93969 52636
Dari contoh di atas, peneliti telah menentukan 10 anggota populasi untuk ditetapkan sebagai sampel penelitian, yaitu nomor-nomr: 30; 67; 70; 21; 62; 01; 79; 75; 18; dan 53 (dalam tabel ditunjukkan oleh bilangan dua digit yang tercetak tebal). Cara yang ditempuh ialah mengambil dua digit secara konsisten. Dari contoh tersebut, penentuan nomor 30 dilakukan secara random, kemudian untuk mengambil bilangan-bilangan berikutnya dengan cara mengambil angka dua digit di bawahnya, dan seterusnya. Apabila ke bawah belum mencukupi, peneliti dapat mengambil dua digit pada kolom kedua; Apabila masih belum cukup, peneliti dapat pindah ke kolom ketiga, dan seterusnya. Untuk peneliti yang ingin menggunakan tabel bilangan random, para ahli menyarankan, bahwa bila jumlah sampel kurang dari 100 unit, maka dalam pengambilan bilangan random, dianjurkan menggunakan dua digit. Apabila jumlah sampel antara 100 sampai dengan 1000 unit, dianjurkan menggunakan tiga digit, dan seterusnya.

Technorati Tags: , , , ,

 
2 Comments

Posted by on January 27, 2008 in Metodologi Penelitian

 

Teknik Sampling

D. Teknik sampling
Sebelum dibahas lebih lanjut mengenai teknik sampling, terlebih dahulu akan dibahas mengenai tipe-tipe metode sampling. Mengenai tipe-tipe metode sampling ini Babbie, menggolongkan menjadi dua tipe yaitu:
1. Sampling probabilitas (probability sampling),
2. Sampling nonprobabilitas (nonprobability sampling).
Sampling probabilitas adalah teknik sampling di mana semua individu dalam populasi memiliki peluang yang sama untuk dipilih menjadi sampel. Teknik ini mendasarkan diri pada mekanisme pemilihan sampel secara random. Dalam hal sebaliknya, yaitu apabila pemilihan sampel tidak menggunakan mekanisme pemilihan secara random, dikategorikan sebagai sampling nonprobabilitas. Selanjutnya sebagaimana yang terdapat dalam buku-buku metodologi penelitian seperti misalnya Kerlinger (2000), dan Babie (2004), dari kedua tipe sampling tersebut masing-masing dikembangkan menjadi sejumlah teknik sampling, yaitu:
Sampling probabilitas memiliki beberapa teknik, yaitu:
1. Random sampling sederhana (simple random sampling);
2. Sampling sistematis (systematic sampling);
3. Sampling bertingkat (stratified sampling)
4. Cluster sampling (cluster sampling)
5. Sampling bertahap (stage sampling)

Technorati Tags: , , , ,

 
Leave a comment

Posted by on January 27, 2008 in Metodologi Penelitian

 

Perumusan Masalah

A. Pengertian Masalah Penelitian
Dalam pengertian umum, masalah penelitian adalah suatu pertanyaan atau pernyataan yang menyatakan tentang situasi yang memerlukan pemecahan melalui penelitian, atau keputusan atau perlu didiskusikan. Secara lebih spesifik, masalah penelitian merupakan pertanyaan yang menanyakan hubungan antar variabel penelitian. Pengertian lain menunjukkan bahwa masalah merupakan kesenjangan antara situasi yang diharapkan dengan situasi yang ada. Dapat juga dikatakan sebagai kesenjangan antara tujuan yang ingin dicapai dengan keterbatasan alat dan sumberdaya yang dimiliki untuk mencapai tujuan tersebut. Masalah juga dapat dikatakan sebagai kesenjangan antara teori dan praktik.
Untuk menjadi suatu masalah penelitian khususnya penelitian survei, harus memenuhi beberapa kriteria sebagai berikut:
1. Suatu masalah penelitian harus menggambarkan hubungan antara dua variabel atau lebih.
2. Walaupun tidak merupakan suatu keharusan bahwa suatu masalah harus dinyatakan dalam bentuk pertanyaan, akan tetapi banyak ahli penelitian menyarankan bahwa masalah penelitian hendaknya dinyatakan dalam bentuk pertanyaan. Mengapa dalam bentuk pertanyaan? Suatu masalah penelitian yang dinyatakan dalam bentuk pertanyaan akan lebih mengarahkan pada jawaban yang diharapkan. Dengan bentuk pertanyaan, jawabannya akan lebih jelas dan langsung pada sasarannya.
3. Suatu masalah penelitian memerlukan pengujian secara empirik. Pengujian empirik berarti bahwa pemecahannya dilandasi oleh bukti-bukti empirik yang diperoleh dari lapangan, dengan jalan mengumpulkan data yang relevan.

Technorati Tags: , ,

 
Leave a comment

Posted by on January 27, 2008 in Metodologi Penelitian

 

Herpes Zoster Otikus

Herpes Zoster Otikus adalah infeksi virus pada telinga dalam, telinga tengah dan telinga luar. HZO manifestasinya berupa otalgia berat yang disertai dengan erupsi kulit biasanya pada CAE dan pinna. Bila disertai dengan paralisis n VII maka disebut sebagai Ramsay Hunt Syndrome. Patofisiologi : merupakan reaktifasi dari varicella-zoster virus (VZV) yang terdistribus sepanjang saraf sensoris yang menginervasi telinga, termasuk didalamnya ganglion genikulatum. Apabila gejala disertai kurang pendengaran dan vertigo, maka ini adalah akibat penjalaran infeksi virus langsung pada N. VIII pada posisi sudut serebelo pontin, atau melalui vasa vasorum. Anamnesis disertai riwayat : nyeri dan terasa panas pada sekitar telinga, wajah, mulut dan lidah. Vertigo, nausea, muntah. Kurang pendengaran, hiperakusis, tinitus. Rasa sakit pada mata, lakrimasi. Vesikel bisa muncul sebelum, selama maupun sesudah terjadinya paralisis n VII.

Perlu ditanyakan riwayat pernah terkena cacar air sebelumnya, bahkan saat masih kecil. Terapi : sampai saat ini sifatnya hanya suportif misalnya kompres hangat analgetik narkotika dan antibiotika untuk mencegah sekunder infeksi. Sebenarnya antivirus memberikan efek yang baik yaitu penyakit menjadi tidak terlalu berat dan cepat membaik.

A 28-year-old Asian man presented to the Ben Taub General Hospital with right facial hemiparesis, a varicelliform rash in his right conchal bowl and lateral external auditory canal, and severe right otalgia. He described a gradual onset of right otalgia followed by right conchal bowl erythema and edema three days before presentation. He began having dry mouth and decreased taste over the right side of his tongue just prior to the development of the rash. The rash and facial nerve palsy were noted simultaneously. He had no complaints of dizziness, vertigo, or tinnitus but did have decreased hearing in the right ear. There was no past history of varicella infection. Physical examination revealed a thin Asian man with stable vital signs and no fever. A rash composed of vesicles of different ages filled the conchal bowl and lateral external auditory canal. The tympanic membrane had no lesions and the chorda tympani nerve could not be seen. Minimal forehead movement and near complete eye closure were noted with no other facial motor function on the right side. Otologic examination was normal on the left. The remainder of the neurological examination was without abnormality. Schirmer testing revealed bilaterally symmetrical tearing to 2 centimeters.

Audiometric analysis showed mild sensorineural hearing loss to 2000 Hz on the right side with moderate sensorineural loss above 4000 Hz bilaterally. No crossed stapedial reflex could be elicited on the left. The tympanogram was type A on the left and type B on the right.

 
Leave a comment

Posted by on January 9, 2008 in telinga

 

Tags: , , , , ,

RINITIS VASOMOTOR

Dikutip dari : Yunita A. Rinitis Vasomotor, ©2003 Digital by USU digital
library

Rinitis vasomotor aadalah terdapatnya gangguan fisiologik lapisan mukosa hidung yang disebabkan oleh bertambahnya aktivitas parasimpatis. Kelainan ini merupakan keadaan yang non-infektif dan non-alergi.
Rinitis vasomotor mempunyai gejala yang mirip dengan rinitis alergi sehingga sulit untuk dibedakan. Pada umumnya pasien mengeluhkan gejala hidung tersumbat, ingus yang banyak dan encer serta bersin-bersin walaupun jarang. Etiologi yang pasti belum diketahui, tetapi diduga sebagai akibat gangguan keseimbangan fungsi vasomotor
dimana sistem saraf parasimpatis relatif lebih dominan. Keseimbangan vasomotor
ini dipengaruhi oleh berbagai faktor yang berlangsung temporer, seperti emosi,
posisi tubuh, kelembaban udara, perubahan suhu luar, latihan jasmani dansebagainya, yang pada keadaan normal faktor-faktor tadi tidak dirasakan sebagai gangguan oleh individu tersebut.

Penatalaksanaan rinitis vasomotor bergantung pada berat ringannya gejala dan
dapat dibagi atas tindakan konservatif dan operatif. Beberapa faktor yang
mempengaruhi keseimbangan vasomotor :
1. obat-obatan yang menekan dan menghambat kerja saraf simpatis, seperti ergotamin, chlorpromazin, obat anti hipertensi dan obat vasokonstriktor topikal.
2. faktor fisik, seperti iritasi oleh asap rokok, udara dingin, kelembaban udara yang tinggi dan bau yang merangsang.
3. faktor endokrin, sepeti keadaan kehamilan, pubertas, pemakaian pil anti hamil dan hipotiroidisme.
4. faktor psikis, seperti stress, ansietas dan fatigue.

DIAGNOSIS
Dalam anamnesis dicari faktor yang mempengaruhi keseimbangan vasomotor dan disingkirkan kemungkinan rinitis alergi.
Biasanya penderita tidak mempunyai riwayat alergi dalam keluarganya dan keluhan dimulai pada usia dewasa. Beberapa pasien hanya mengeluhkan gejala sebagai respon terhadap paparan zat iritan tertentu tetapi tidak mempunyai keluhan apabila tidak terpapar.

Pada pemeriksaan rinoskopi anterior tampak gambaran klasik berupa edema
mukosa hidung, konka hipertrofi dan berwarna merah gelap atau merah tua (karakteristik), tetapi dapat juga dijumpai berwarna pucat. Permukaan konka dapat licin atau berbenjol ( tidak rata ). Pada rongga hidung terdapat sekret mukoid, biasanya
sedikit. Akan tetapi pada golongan rinore, sekret yang ditemukan bersifat serosa
dengan jumlah yang banyak. Pada rinoskopi posterior dapat dijumpai post nasal
drip.

Pemeriksaan laboratorium dilakukan untuk menyingkirkan kemungkinan
rinitis alergi. Test kulit ( skin test ) biasanya negatif, demikian pula test RAST, serta kadar Ig E total dalam batas normal. Kadang-kadang ditemukan juga eosinofil pada sekret hidung, akan tetapi dalam jumlah yang sedikit. Infeksi sering menyertai yang ditandai dengan adanya sel neutrofil dalam sekret.

Beda RInitis ALergi dan Vasomotor

ciri-rinitis-vasomotor.jpg

Pengobatan rinitis vasomotor bervariasi, tergantung kepada faktor penyebab
dan gejala yang menonjol.
Secara garis besar, pengobatan dibagi dalam :
1.Menghindari penyebab / pencetus ( Avoidance therapy )
2. Pengobatan konservatif ( Farmakoterapi ) :
– Dekongestan atau obat simpatomimetik digunakan untuk mengurangi
keluhan hidung tersumbat. Contohnya : Pseudoephedrine dan Phenylpropanolamine oral serta Phenylephrine dan Oxymetazoline (semprot hidung ).
– Anti histamin : paling baik untuk golongan rinore.
– Kortikosteroid topikal mengurangi keluhan hidung tersumbat, rinoredan bersin-bersin dengan menekan respon inflamasi lokalyang disebabkan oleh mediator vasoaktif. Biasanya digunakan sedikit selama 1 atau 2 minggu sebelum dicapai hasil yang memuaskan. Contoh steroid
topikal : Budesonide, Fluticasone, Flunisolide atau Beclomethasone
– Anti kolinergik juga efektif pada pasien dengan rinore sebagai keluhan utamanya.Contoh : Ipratropium bromide ( nasal spray )
3. Terapi operatif ( dilakukan bila pengobatan konservatif gagal ) :
– Kauterisasi konka yang hipertrofidengan larutan AgNO3 25% atau triklorasetat pekat (chemical cautery ) maupunsecara elektrik ( electrical cautery ).
– Diatermi submukosa konka inferior (submucosal diathermy of the inferior turbinate )
– Bedah beku konka inferior ( cryosurgery )
– Reseksi konka parsial atau total (partial or total turbinate resection)
– Turbinektomi dengan laser ( laser turbinectomy )
– Neurektomi n. vidianus ( vidian neurectomy ),

Technorati Tags:

 
Leave a comment

Posted by on January 6, 2008 in hidung

 

Soal-soal Prof X3

1. Otoskopi yang dilihat apa saja dan kira kira penyebabnya ?

  • Perforasi :OMA stad III, OMK, trauma
  • Retraksi : oklusio tubae, OM adhesiva
  • Atrofi : OME
  • Bulging : OMA

2. Apakah saudara tahu bahwa ada mastoiditis yang disebabkan bukan karena OM, lalu karena apa ? Otitis Eksterna maligna dab kolesteatoma kongenital
OE Maligna : radang pada isthmus CAE karena kuman pseudomonas menyusuri basis kranii kemudian masuk ke foramen stilomastoid kemudian ke mastoid sehingga menjadi mastoiditis.
Kolesteatoma kongenital : sel-sel embrional dati ektoderm tertinggal di daerah mastoid kemudian terjadi mastoiditis
DD untuk telinga bau apa saja :
1. kolestetoma di liang telinga atau di cavum timpani
2. serumen basah
3. mastoiditis koalesen
4. malignansi di liang telinga atau rongga telinga tengah.
5. OMK infeksi kuman Coli.
6. Kelumpuhan n. 7 derajatnya ada berapa macam ( ada 2 sistem ):
Slunderland :

  • Blokade fisiologi
  • Ruptura Axon
  • Ruptura Axon dan endoneurium
  • Ruptura Axon, endoneurium dan perineurium
  • Ruptura Axon, endoneurium, perineurium dan epineurium

Klasik :

  • neuropraksia
  • axonotmesis
  • neurotmesis

7. Sistem keseimbangan pada manusia apa saja dan bagaimana cara memeriksanya ?
sistem vestibuler
sistem okuler
sistem propioseptif
Cara pemeriksaan :
posisi nistagmus
nistagmografi
Romberg, Babinski Weil, Modifikasi Romberg

 
Leave a comment

Posted by on January 3, 2008 in soal soal ujian

 
 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.