mastoidektomi

Mastoidektomi
3 macam :
1. Simple
2. Modified radical
3. Radical

Mastoidektomi simple :
Menggubungkan telinga tengah dengan mastoid, dimana tulang kanal telinga tetap dipertahankan, sering disebut “canal wall up”. Setelah dibersihkan maka timpqnoplasti bisa dilakukan.

2. Mastoidektomi modified radical .
bedanya hanya dinding tulang cae dibuang juga, sering disebut canal wall down. Tejadi rongga antara cae dan mastoid, shg rongga mastoid terekspose dgn dunia luar. Dilakukan pelebaran cae sering disebut meatoplasty. Prosedur ini dilakukan infeksi berulang yang ekstensif.sehingga rongga mastoid bisa dibersihkan saat follow up.Timpanoplasti masih bisa dilakukan pada prosedur ini.

3. Radical mastoidectomy
Pada prosedur ini ossicula dan mucosa telinga tengah juga dibersihkan . Bahkan tuba eustachii juga diblok. Tidak bisa dilakukan timpanoplasty pada prosedur ini.
Semua jenis me tsb tetap memberikan resiko : kurang pendengaran, tinnitus, dzzines, perot atau ggan pengecapan.
Paul Gidley, MD
(c) 2004 MC ENT A
Medical Center Ear Nose and Throat Associates of Houston

nervus fasialis

Oleh dr Thohar Arifin.
Nervus Facialis dan n. Intermedius(karene terletak diantara N VII dan N VIII) selalu dibicarakan bersama. Komponen nervi cranialis ini adalah :
– motorik
– parasympathis
– pengecapan 2/3 anterior lidah
– sensoris

facial_nerve.gif

N. Intermedius (Wrisberg) dirunut dari cerebropontin angle terletak diantara N VII dan N VIII mengandung komponen SVA dan GSA. Nervus ini dalam perjalananya di MAI bergabung dengan N VII mulai dari Genu N VII(ganglion Geniculi).
Di Genu N VII komponen SVA(neuron orde I) berganti neuron, serabut ini membawa impuls sensoris rasa dari lidah di 2/3 anterior. Dalam perjalananya dari 2/3 anterior lidah fiber akan bergabung dengan nervus lingualis yang anatomis merupakan cabang N. V, kemudian melewati Corda tympani. Fiber melanjut sebagai fasiculus solitarius dan kemudian akan menuju ke Ncl Solitarius atau Ncl. Gustatorius.
GSA fiber membawa impuls sensasi dari MAE dan kulit di belakang auricula. Di central fiber ini akan menerus ke tractus trigeminalis spinalis bagian dorsal
Komponen GVE fiber yang berasal dari ncl. Superior salivatorius dengan neuro trasnmiter collinergic. Cell bagian dorsal dari NCL N X membentu bagian caudal dari Nucleus salivatorius. Overlaping distribusi neuron antara N IX dan N Intermedius memunculkan penamaan NCL salivatorius superior dan inferior. Di Dekat Genu N VII satu group melanjut sebagai n petrosus superficialis mayor yang akan menuju ggl pterigopalatinum berfungsi sbagai secretomotor untuk glandula lacrimalis dan vasomotor untuk membrana mucosa mulut dan hidung. Groups yang lain akan menuju ke ganglion sub mandibularis yang sebelumnya melewati corda tympani dan bergabung dengan n lingulais. Fiber ini bertanggungjawab terhadap sekresi glandula sub mandibularis dan sub lingualis

LESI NERVUS FACIALIS

Bell’s Palsy, lesi paralytic ipsilateral musculus facialis dan lesi sensoris serta autonom sesuai persarafan N Facialis. Lesi motoris total jika lesi terjadi di for stylomastoideus. Pada sisi lesi penderita tidak dapat mengerutkan dahi, menutup mata, meringis, dan mecucu. Fisura palpebralis melebar, lipatan nasolabial mendatar serta angulus oris jatuh ke bawah. Corneal refleks tidak ada namun sensasi cornea masih terpelihara.
Lesi di distal ganglion geniculatum akan menampakan gejala seperti diatas dan disertai dengan gangguan secresi glandula submandibularis dan sublingualis, hyperacusis karena lumpuhnya nervus stapeideus dan sering diikuti dengan hilannya rasa pengecap pada 2/3 anterior lidah.
Lesi Proximal dari N Facialis akan berakibat lesi seperti diatas dan hilannya rasa pengecap 2/3 anterior lidah total dan gangguan secresi lacrima. Hilangnya modalitas rasa pengecap mungkin akan menetap, sedangkan modalitas secretomotor akan regenerasi, namun regenerasi ini kadang menglami keslahan, fiber yang seharusnya menuju ggl submandibularis bergabung dengan n petrosus superficialis mayor, sehingga rangang salvias akan dimanifestasikan dengan produksi air mata. Kondisi ini mengacu pada Syndroma crocodile tears, yang merupakan squele dari bell’s palsy.

Audiometri Dasar

Audiometri dasar

Pemeriksaan audiometri memerlukan : audiometer, ruang kedap suara, audiologist dan pasien yang kooperatif. Pemeriksaan standar yang dilakukan adalah :
* audiometri nada murni
* audiometri tutur
* immittance audiometri

Audiometri nada murni

Pemeriksaan ini menghasilkan grafik nilai ambang pendengaran pasien pada stimulus nada murni. Nilai ambang diukur dengan frkwensi yang berbeda-beda. Secara kasar bahwa pendengaran yang normal grafik berada diatas. Grafiknya terdiri dari skala desibel. Suara dipresentasikan dengan earphone ( air conduction ) dan skull vibrator ( bone conduction ). Bila terjadi air bone gap maka mengindikasikan adanya CHL. Turunnya nilai ambang pendengaran oleh bone conduction menggambarkan SNHL.

simbol audiogram Simbol Audiometer

aud3.gifNormal

aud5.gifCHL

aud4.gifSNHL

aud6.gifMHL

Terima kasih atas pertanyaannya

Pada dasarnya memang tes pendengaran terbagi menjadi 2 macam :

1. Tes pendengaran tanpa alat : test bisik , tes suara ( sifatnya subyektif dan menentukan derajat ketulian hanya secara kasar).

2. Tes pendengaran dengan alat :

    – dengan garpu tala

    – dengan alat audiometry ( dengan jenis yang macam-macam denga harga berkisar diatas 30 juta ). Semakin canggih maka bisa menilai gangguan pendengaran lebih tepat baik secara derajat maupun kemungkinan penyebab dan teknik rehabilitasi yang paling tepat, untuk pemilihan alat bantu dengar.

Audiometri tutur : pada prinsipnya pasien disuruh mendegar kata-kata yang jelas artinya pada intensitas mana mulai terjadi gangguan sampai 50 % tidak dapat menirukan kata-kat dengan tepat.

Kriteria orang dikatakan tuli ?

Tuli terdiri dari beberapa derajat :

1. Ringan masih bisa mendengar pada intensitas 20-40 dB

2. Sedang =========================== 40-60 dB

3. Berat sudah tidak dapat mendengar pada === 60-80 dB

4. Berat sekali ======================== > 80 dB

pada dasarnya tuli mengakibatkan gangguan komunikasi, apabila seseorang masih memiliki sisa pendengaran diharapkan dengan bantuan alat bantu dengar (ABD/hearing AID) suara yang ada diamplifikasi dikeraskan oleh ABD sehingga bisa terdengar.

Prinsipnya semua tes pendengaran agar akurat hasilnya, tetap harus pada ruangan kedap suara, minimal sunyi. Karena kita meberikan tes pada frekwensi tertentu dengan intensitas lemah , TiiiiT….. kalau ada gangguan suara pasti akan mengganggu penilaian kita.

Pada audiometru tutur, memang kata-kata tertentu denagn vokal dan konsonan tertentu yang dipaparkan ke penderita.

Intensitas pada pemeriksaan audiometri bisa dimulai dari 20 dB bila tidak mendengar 40 dB dst, bila mendengar intensitas bisa diturunkan 0 dB, berarti pendengaran baik.

Tes sebelum dilakukan audiometri tentu saja perlu pemeriksaan telinga : apakah congek atau tidak ( ada cairan dalam telinga ), apakah ada kotoran telinga ( serumen ), apakah ada lubang pada gendang telinga. Untuk menentukan penyebab kurang pendengaran.