RSS

Category Archives: hidung

Kriteria Rinosinusitis Akut dan Kronik pada Anak dan Dewasa

Tabel 1. Kriteria Rinosinusitis Akut dan Kronik pada Anak dan Dewasa Menurut International Conference on Sinus Disease 1993 & 2004. Disarikan dari : Kennedy DW14 dan Meltzer15.


KRITERIA

RINOSINUSITIS AKUT

RINOSINUSITIS KRONIK

Dewasa

Anak

Dewasa

Anak

1.

Lama Gejala dan Tanda

< 12

minggu

< 12 minggu

> 12

minggu

> 12

minggu

2.

Jumlah episode serangan akut, masing-masing berlangsung minimal 10 hari

< 4 kali / tahun

< 6 kali / tahun

> 4 kali / tahun

> 6 kali / tahun

3.

Reversibilitas mukosa

Dapat sembuh sempurna dengan pengobatan medikamentosa

Tidak dapat sembuh sempurna dengan pengobatan medikamentosa

 
Leave a comment

Posted by on February 10, 2009 in hidung

 

Tags: , , ,

Epitaksis / Perdarahan Hidung

Technorati Tags: ,

Defenisi

Perdarahan dari hidung. Sering ditemukan sehari-hari, hampir sebagian besar dapat berhenti sendiri. Harus diingat epitaksis bukan merupakan suatu penyakit tetapi merupakan gejala dari suatu kelainan.

Etiologi
Seringkali epitaksis timbul spontan tanpa dapat ditelusuri penyebabnya, tetapi terkadang epitaksis ditimbulkan oleh trauma. Berbagai penyebab epitaksis dibagi menjadi 2 bagian besar yaitu lokal dan sistemik. Penyebab lokal yang tersering adalah Trauma, infeksi, neoplasma  dan kelainan kongenital. Penyebab lainnya adalah kelainan sitemik, seperti penyakit jantung, kelainan darah, infeksi, perubahan tekanan atmosfer dan gangguan endokrin.
Trauma

Perdarahan hidung dapat terjadi setelah trauma ringan, misalnya mengeluarkan ingus secara tiba-tiba dan kuat, mengorek hidung, dan trauma yang hebat seperti terpukul, jatuh atau kecelakaan. Selain itu juga dapat disebabkan oleh iritasi gas yang merangsang, benda asing di hidung dan trauma pada pembedahan.
Infeksi

Infeksi hidung dan sinus paranasal seperti rhinitis atau sinusitis juga dapat menyebabkan perdarahan hidung.
Neoplasma

Hemangioma dan karsinoma adalah yang paling sering menimbulkan gejala epitaksis.
Kongenital

Penyakit turunan yang dapat menyebabkan epitaksis adalah telengiaktasis hemoragik herediter
Penyakit kardiovaskular

Hipertensi dan kelainan pada pembuluh darah di hidung  seperti arteriosklerosis, sirosis, sifilis dan penyakit gula dapat menyebabkan terjadinya epitaksis karena pecahnya pembuluh darah.
Kelainan Darah

Trombositopenia, hemophilia, dan leukemia
Infeksi sistemik

Demam berdarah, Demam tifoid, influenza dan sakit morbili
Perubahan tekanan atmosfer

Caisson disease (pada penyelam)

Gejala dan Tanda
Perdarahan dari hidung, gejala yang lain sesuai dengan etiologi yang bersangkutan.
Epitaksis berat, walaupun jarang merupakan kegawatdaruratan yang dapat mengancam keselamatan jiwa pasien, bahkan dapat berakibat fatal jika tidak cepat ditolong.  Sumber perdarahan dapat berasal dari depan hidung maupun belakang hidung. Epitaksis anterior (depan) dapat berasal dari pleksus kiesselbach atau dari a. etmoid anterior. Pleksus kieselbach ini sering menjadi sumber epitaksis terutama pada anak-anak dan biasanya dapat sembuh sendiri.

Epitaksis posterior (belakang) dapat berasal dari  a. sfenopalatina dan a etmoid posterior. Perdarahan biasanya hebat dan jarang berhenti sendiri. Sering ditemukan pada pasien  dengan hipertensi, arteriosklerosis atau pasien dengan penyakit jantung.

Beberapa pemeriksaan yang diperlukan adalah Pemeriksaan darah Lengkap dan Fungsi Hemostasis

Penatalaksanaan
            Tiga prinsip utama dalam menanggulangi epitaksis adalah
Menghentikan perdarahan
Mencegah komplikasi yang timbul akibat perdarahan seperti syok atau infeksi
Mencegah berulangnya epitaksis

Jika pasien dalam keadaan gawat seperti syok atau anemia lebih baik diperbaiki dulu keadaan umum pasien baru menanggulangi perdarahan dari hidung itu sendiri.

Menghentikan perdarahan
Menghentikan perdarahan secara aktif dengan menggunakan kaustik atau tampon jauh lebih efektif daripada dengan pemberian obat-obat hemostatik dan menunggu darah berhenti dengan sendirinya.  Jika pasien datang dengan perdarahan maka pasien sebaiknay diperiksa dalam keadaan duduk, jika terlalu lemah pasien dibaringkan  dengan meletakan bantal di belakang punggung pasien.

Sumber perdarahan dicari dengna bantuan alat penghisap untuk membersihkan hidung dari bekuan darah , kemudian dengan menggunakan tampon kapas yang dibasahi dengan adrenalin 1/ 10000 atau lidokain 2 % dimasukan ke dalam rongga hidung untuk menghentikan perdarahan atau mengurangi nyeri, dapat dibiarkan selama 3 -5 menit
Perdarahan Anterior

Dapat menggunakan alat kaustik nitras argenti 20-30% atau asam triklorasetat 10% atau dengan elektrokauter. Bila perdarahan masih berlangsung maka  dapat digunakan tampon anterior (kapas dibentuk  dan dibasahi dengan adrenalin +Vaseline) tampon ini dapat digunakan sampai 1-2 hari.
Perdarahan Posterior

Perdarahan biasanya lebih hebat dan lebih sukar dicari, dapat dilihat dengan menggunakan pemeriksaan rhinoskopi posterior. Untuk mengurangi perdarahan dapat digunakan tampon Beelloqk

Mencegah komplikasi, sebagai akibat dari perdarahan yang berlebihan, dapat terjadi syok atau anemia, turunya tekanan darah yang mendadak dapat menimbulkan infark serebri, insufisiensi koroner, atau infark miokard, sehingga dapat menyebabkan kematian. Dalam hal ini harus segera diberi pemasangan infus untuk membantu cairan masuk lebih cepat. Pemberian antibiotika juga dapat membantu mencegah timbulnya sinusitis, otitis media akibat pemasangan tampon.

 
Leave a comment

Posted by on January 25, 2009 in hidung

 

Polip Hidung

Technorati Tags: ,,,

DEFINISI

Polip nasi atau polip hidung adalah kelainan selaput permukaan hidung berupa massa lunak yang bertangkai, berbentuk bulat atau lonjong, berwarna putih keabu-abuan dengan permukaan licin dan agak bening karena mengandung banyak cairan.

Kelainan pada hidung biasanya timbul karena manifestasi dari penyakit yang lain dan tidak berdiri sendiri, penyakit ini sering dihubungkan dengan astma, rhinitis alergika, dan sinusitis, di luar negeri sendiri penyakit ini sering dihubungkan dengan seringnya penggunaan aspirin.

ETIOLOGI DAN PATOGENESIS
Etiologi pasti hingga sekarang belum diketahui, tetapi terdapat 3 faktor penting yang berperan di dalam terjadinya polip, yaitu
Peradangan lama dan berulang pada selaput permukaan hidung dan sinus
Gangguan keseimbangan Vasomotor
Peningkatan tekanan cairan antar ruang sel dan bengkak selaput permukaan hidung

Fenomena bernouli menyatakan bahwa udara yang mengalir melalui celah yang sempit akan mengakibatkan tekanan negatif pada daerah sekitarnya, sehingga jaringan yang lemah akan terhisap oleh tekanan negatif ini sehingga menyebabkan polip, fenomena ini dapat menjelaskan mengapa polip banyak terjadi pada area yang sempit di kompleks osteomatal.

Patogenesis polip pada awalnya ditemukan bengkak selaput permukaan yang kebanyakan terdapat pada meatus medius, kemudian stroma akan terisi oleh cairan interseluler sehingga selaput permukaan yang sembab menjadi berbenjol-benjol. Bila proses terus membesar dan kemudian turun ke dalam rongga hidung sambil membentuk tangkai sehingga terjadi Polip

GEJALA DAN TANDA

Pada anamnesis kasus polip biasanya timbul keluhan utama adalah hidung tersumbat. sumbatan ini menetap dan tidak hilang timbul. Semakin lama keluhan dirasakan semakin berat. Pasien sering mengeluhkan terasa ada massa di dalam hidung dan sukar membuang ingus. Gejala lain adalah hiposmia (gangguan penciuman). Gejala lainnya dapat timbul jika teradapat kelainan di organ sekitarnya seperti post nasal drip (cairan yang mengalir di bagian belakang mulut), suara bindeng, nyeri muka,  telinga terasa penuh, snoring (ngorok), gangguan tidur dan penurunan kualitas hidup.

Secara pemeriksaan mikroskopis tampak epitel pada polip serupa dengan selaput permukaan hidung normal yaitu epitel bertingkat semu bersilia dengan subselaput permukaan yang sembab.

Dengan pemeriksaan rhinoskopi anterior  biasanya polip sudah dapat dilihat, polip yang masif seringkali menciptakan kelainan pada hidung bagian luar. Pemeriksaan Rontgen dan CT scan dapat dilakukan untuk mendeteksi adanya sinusitis.

PENATALAKSANAAN

Pengobatannya berupa terapi obat-obatan dan operasi. Terapi medikamentosa ditujukan pada polip yang masih kecil yaitu pemberian kortikosteroid sistemik yang diberikan dalam jangka waktu singkat, dapat juga diberiksan kortikosteroid hidung atau kombinasi keduanya.

Tindakan pengangkatan polip dapat digunakan menggunakan senar polip dan anestesi lokal. Untuk polip yang besar dan menyebabkan kelainan pada hidung, memerlukan jenis operasi yang lebih besar dan anestesi umum

 
1 Comment

Posted by on January 25, 2009 in hidung, sinus paranasal

 

Rinoskleroma

Rinoskleroma adalah penyakit menahun granulomatosa yang bersifat progresif, mengenai traktus respiratorius bagian atas terutama hidung. Penyakit ini ditandai dengan penyempit-an rongga hidung sampai penyumbatan oleh suatu jaringan granulomatosa yang keras serta dapat meluas ke nasofaring, orofaring, subglotis, trakea dan bronkus.
Rinoskleroma disebabkan oleh bacilus gram negatif (Klebsiella rhinoscleromatis).
Penyakit ini pertama kali digambarkan oleh Von Hebra (1870). Mikulitz menemukan sel-sel yang dianggap khas untuk penyakit ini dan Von Frisch menemukan basil jenis Klebsiella yang dianggap sebagai penyebab penyakit ini.
Diagnosis berdasarkan perjalanan klinis dan pemeriksaan patologi spesimen yang memperlihatkan sel-sel Mikulicz yang khas dan bakteri berbentuk batang dalam sitoplasma.
Secara histopatologis penyakit ini terdiri dari tiga stadia; yang menunjukkan gambaran khas adalah stadium granu-lomatosa2,9,12
1. Stadium kataral/ atropik
Metaplasi skuamosa dan infiltrasi subepitel nonspesifik dari sel PMN dengan jaringan granulasi.
2. Stadium granulomatosa
Gambaran diagnostik ditemukan pada stadium ini berupa sel radang kronik, Russel body, hiperplasi pseudo epitelioma-tosa, histiosit besar bervakuola yang mengandung Klebsiella rhinoskleromatis (Mikulicz sel).
3. Stadium sklerotik
Fibrosis yang luas, yang menyebabkan stenosis dan kelain-an bentuk.
PENATALAKSANAAN
Meliputi : medikamentosa, radiasi dan tindakan bedah; namun sampai sekarang belum ada cara yang tepat dan memuaskan.6,8
1. Medikamentosa
Antibiotik sangat berguna jika hasil kultur positif, tetapi kurang berharga pada stadium sklerotik.
Antibiotik yang dapat digunakan antara lain:
- Streptomisin : 0,5-1 g/ hari
- Tetrasiklin : 1-2 g/ hari
- Rifampisin 450 mg/ hari
- Khloramphenikol, Siprofloksasin, Klofazimin1,2,7-10,11,13-15
Terapi antibiotik diberikan selama 4-6 minggu dan dilanjutkan sampai dua kali hasil pemeriksaan kultur negatif.
Rolland menggunakan kombinasi Streptomisin dan Tetra-siklin dengan hasil yang memuaskan.
Steroid dapat diberikan untuk mencegah sikatrik pada stadium granulomatosa.
2. Radiasi
Terapi radiasi pernah diberikan oleh Massod, tetapi hasilnya belum memuaskan.
3. Dilatasi
Cara dilatasi dapat dicoba untuk melebarkan kavum nasi dan nasofaring terutama bila belum terjadi sumbatan total.
4. Pembedahan.

Selengkapnya bisa dilihat di : http://www.kalbe.co.id/files/cdk/files/cdk_144_tht.pdf

Technorati Tags: ,

 
Leave a comment

Posted by on June 13, 2008 in hidung

 

Rinitis Atrofi

Rinitis atrofi adalah penyakit infeksi hidung kronik, yang ditandai adanya atrofi progresif pada mukosa dan tulang konka dan pembentukan krusta. Secara klinis, mukosa hidung menghasilkan sekret yang kental dan cepat mengering, sehing-ga terbentuk krusta yang berbau busuk. Penyakit ini lebih sering mengenai wanita,terutama pada usia pubertas.
Etiologi dan patogenesis rinitis atrofi sampai sekarang belum dapat diterangkan dengan memuaskan. SINONIM : Ozaena, rinitis fetida, rinitis krustosa.
Beberapa teori yang dikemukakan antara lain :
1) Infeksi kronik spesifik
Terutama kuman Klebsiella ozaena. Kuman ini meng-hentikan aktifitas sillia normal pada mukosa hidung manusia. Kuman lain adalah Stafilokokus, Streptokokus dan Pseudo-monas aeruginosa, Kokobasilus, Bacillus mucosus, Diphteroid bacilli, Cocobacillus foetidus ozaena
2) Defisiensi Fe, vitamin A
3) Sinusitis kronik
5) Ketidakseimbangan hormon estrogen
6) Penyakit kolagen yang termasuk penyakit autoimun
7) Teori mekanik dari Zaufal
8) Ketidakseimbangan otonom
9) Variasi dari Reflex Sympathetic Dystrophy Syndrome (RSDS)
10) Herediter
11) Supurasi di hidung dan sinus paranasal
12) Golongan darah
Selain faktor-faktor di atas, rinitis atrofi juga bisa di-golongkan atas : rinitis atrofi primer yang penyebabnya tidak diketahui dan rinitis atrofi sekunder, akibat trauma hidung (operasi besar pada hidung atau radioterapi) dan infeksi hidung kronik yang disebabkan oleh sifilis, lepra, midline granuloma, rinoskleroma dan tbc.

Selengkapnya silahkan dilihat pada : http://www.kalbe.co.id/files/cdk/files/cdk_144_tht.pdf

Technorati Tags: ,

 
Leave a comment

Posted by on June 13, 2008 in hidung

 

KUMPULAN BUKU OTOLARYNGOLOGY

Ingin mendapatkan download pdf/ Help file buku-buku otolaryngologi sms saya 08882464786.

1. Bailey otolaryngology Head and Neck Surgery total 3×90 MB membutuhkan winrar (bisa didownload sekalian).
2. ENT Secret
3. Current Diagnosis and Treatment on Otolaryngology
4. Controversies on Otolaryngology
5. Head and Neck Surgery Clinical and Reference Guide
6. Facial Plastic Reconstructive and Trauma Surgery
7. Pathology and Genetics Head and Neck Tumour
8. Ear , Nose and Throat Head and Neck Surgery
9. Tracheostomy : A multy professional Handbook
10. Winrar — http://www.4shared.com/file/45533836/4e0d40eb/wrar362.html adalah software untuk ngebukanya.

Pilih yang mana ?

jangan lupa cantumkan email saat sms ke saya (08882464786), karena url akan saya sampaikan via e-mail.
O.K

 

Tags: , , , , , , , ,

RINITIS VASOMOTOR

Dikutip dari : Yunita A. Rinitis Vasomotor, ©2003 Digital by USU digital
library

Rinitis vasomotor aadalah terdapatnya gangguan fisiologik lapisan mukosa hidung yang disebabkan oleh bertambahnya aktivitas parasimpatis. Kelainan ini merupakan keadaan yang non-infektif dan non-alergi.
Rinitis vasomotor mempunyai gejala yang mirip dengan rinitis alergi sehingga sulit untuk dibedakan. Pada umumnya pasien mengeluhkan gejala hidung tersumbat, ingus yang banyak dan encer serta bersin-bersin walaupun jarang. Etiologi yang pasti belum diketahui, tetapi diduga sebagai akibat gangguan keseimbangan fungsi vasomotor
dimana sistem saraf parasimpatis relatif lebih dominan. Keseimbangan vasomotor
ini dipengaruhi oleh berbagai faktor yang berlangsung temporer, seperti emosi,
posisi tubuh, kelembaban udara, perubahan suhu luar, latihan jasmani dansebagainya, yang pada keadaan normal faktor-faktor tadi tidak dirasakan sebagai gangguan oleh individu tersebut.

Penatalaksanaan rinitis vasomotor bergantung pada berat ringannya gejala dan
dapat dibagi atas tindakan konservatif dan operatif. Beberapa faktor yang
mempengaruhi keseimbangan vasomotor :
1. obat-obatan yang menekan dan menghambat kerja saraf simpatis, seperti ergotamin, chlorpromazin, obat anti hipertensi dan obat vasokonstriktor topikal.
2. faktor fisik, seperti iritasi oleh asap rokok, udara dingin, kelembaban udara yang tinggi dan bau yang merangsang.
3. faktor endokrin, sepeti keadaan kehamilan, pubertas, pemakaian pil anti hamil dan hipotiroidisme.
4. faktor psikis, seperti stress, ansietas dan fatigue.

DIAGNOSIS
Dalam anamnesis dicari faktor yang mempengaruhi keseimbangan vasomotor dan disingkirkan kemungkinan rinitis alergi.
Biasanya penderita tidak mempunyai riwayat alergi dalam keluarganya dan keluhan dimulai pada usia dewasa. Beberapa pasien hanya mengeluhkan gejala sebagai respon terhadap paparan zat iritan tertentu tetapi tidak mempunyai keluhan apabila tidak terpapar.

Pada pemeriksaan rinoskopi anterior tampak gambaran klasik berupa edema
mukosa hidung, konka hipertrofi dan berwarna merah gelap atau merah tua (karakteristik), tetapi dapat juga dijumpai berwarna pucat. Permukaan konka dapat licin atau berbenjol ( tidak rata ). Pada rongga hidung terdapat sekret mukoid, biasanya
sedikit. Akan tetapi pada golongan rinore, sekret yang ditemukan bersifat serosa
dengan jumlah yang banyak. Pada rinoskopi posterior dapat dijumpai post nasal
drip.

Pemeriksaan laboratorium dilakukan untuk menyingkirkan kemungkinan
rinitis alergi. Test kulit ( skin test ) biasanya negatif, demikian pula test RAST, serta kadar Ig E total dalam batas normal. Kadang-kadang ditemukan juga eosinofil pada sekret hidung, akan tetapi dalam jumlah yang sedikit. Infeksi sering menyertai yang ditandai dengan adanya sel neutrofil dalam sekret.

Beda RInitis ALergi dan Vasomotor

ciri-rinitis-vasomotor.jpg

Pengobatan rinitis vasomotor bervariasi, tergantung kepada faktor penyebab
dan gejala yang menonjol.
Secara garis besar, pengobatan dibagi dalam :
1.Menghindari penyebab / pencetus ( Avoidance therapy )
2. Pengobatan konservatif ( Farmakoterapi ) :
- Dekongestan atau obat simpatomimetik digunakan untuk mengurangi
keluhan hidung tersumbat. Contohnya : Pseudoephedrine dan Phenylpropanolamine oral serta Phenylephrine dan Oxymetazoline (semprot hidung ).
- Anti histamin : paling baik untuk golongan rinore.
- Kortikosteroid topikal mengurangi keluhan hidung tersumbat, rinoredan bersin-bersin dengan menekan respon inflamasi lokalyang disebabkan oleh mediator vasoaktif. Biasanya digunakan sedikit selama 1 atau 2 minggu sebelum dicapai hasil yang memuaskan. Contoh steroid
topikal : Budesonide, Fluticasone, Flunisolide atau Beclomethasone
- Anti kolinergik juga efektif pada pasien dengan rinore sebagai keluhan utamanya.Contoh : Ipratropium bromide ( nasal spray )
3. Terapi operatif ( dilakukan bila pengobatan konservatif gagal ) :
- Kauterisasi konka yang hipertrofidengan larutan AgNO3 25% atau triklorasetat pekat (chemical cautery ) maupunsecara elektrik ( electrical cautery ).
- Diatermi submukosa konka inferior (submucosal diathermy of the inferior turbinate )
- Bedah beku konka inferior ( cryosurgery )
- Reseksi konka parsial atau total (partial or total turbinate resection)
- Turbinektomi dengan laser ( laser turbinectomy )
- Neurektomi n. vidianus ( vidian neurectomy ),

Technorati Tags:

 
Leave a comment

Posted by on January 6, 2008 in hidung

 

Respon Imun Outline

Granulosit yang dibentuk dengan kecepatan 8 juta sel/menit hanya hidup 2-3 hari, sedang monosit/makrofag dapat hidup untuk beberapa bulan-tahun. Granulosit yang merupakan 60-70% dari seluruh sel darah putih, ditemukan juga di luar pembuluh darah karena dapat menembus dinding pembuluh darah. Sel polimorfonuklear bergerak cepat dan sudah berada di tempat infeksi dalam 2-4 jam, sedang monosit bergerak lebih lambat dan
memerlukan waktu 7-8 jam untuk sampai di tempat tujuan.
Sel sistim imun spesifik terdiri atas sel B dan sel T yang masing-masing merupakan sekitar 10% dan 70-85% dari semua limfosit dalam sirkulasi.
Sel B tidak mempunyai subset tetapi sel T terdiri atas beberapa subset: sel Th, Ts, Tc dan Tdh.
Sel B merupakan asal dari sel plasma yang membentuk imunoglobulin (Ig) yang terdiri atas IgG,IgM,IgA,IgE dan IgD.
IgD berfungsi sebagai opsonin, dapat mengaglutinasikan kuman/ virus, menetralisir toksin dan virus, mengaktifkan komplemen (jalur klasik) dan berperanan pada Antibody Dependent Cellular Cytotoxicity (ADCC). ADCC tidak hanya merusak sel tunggal
tetapi juga mikroorganisme multiselular seperti telur skistosoma, kanker, penolakan transplan, sedang ADCC melalui neutrofil dan eosinofil berperan pada imunitas parasit.
IgM dibentuk terdahulu pada respons imun primer sehingga kadar IgM yang tinggi menunjukkan adanya infeksi dini. IgM merupakan aglutinator antigen serta aktivator komplemen (jalur klasik) yang poten.
IgA ditemukan sedikit dalam sekresi saluran napas, cerna dan kemih, air mata, keringat, ludah dan air susu ibu dalam bentuk IgA sekretori (sIgA). IgA dan sIgA dapat menetralisir toksin, virus, mengagglutinasikan kuman dan mengaktifkan komplemen (jalur alternatif). IgE berperanan pada alergi, infeksi cacing, skistosomiasis, penyakit hidatid, trikinosis. Peranan IgD belum banyak diketahui dan diduga mempunyai efek antibodi pada alergi makanan dan autoantigen.
Sel Th yang disebut sel inducer merupakan regulator sistim imun oleh karena mengatur fungsi sel-sel sistim imun lainnya termasuk makrofag, sel B dan subset sel T lainnya.
Di samping sel-sel tersebut di atas masih ada sel non T non B yang terdiri atas sel NK (Natural Killer) dan sel K (Killer). Sel NK dapat membunuh sel tumor dan sel yang diinfektir virus secara nonspesifik tanpa bantuan antibodi, sedang sel K merupakan efektor dari ADCC yang dapat membunuh sel secara spesifik tetapi hanya dengan bantuan antibodi.

Technorati Tags: , , , , , , , ,

 
Leave a comment

Posted by on January 1, 2008 in hidung

 

Ozaena (Rinitis Atrofi)

Rinitis Atrofi (Ozaena)
Oleh : Muhammad al-Fatih II
Rinitis atrofi (Ozaena) merupakan penyakit infeksi hidung yang kronis (rinitis kronis) dan ditandai oleh atrofi mukosa dan tulang konka hidung.

Rinitis atrofi (Ozaena) lebih banyak ditemukan pada wanita, usia 1-35 tahun (terbanyak usia pubertas). Juga lebih sering terdapat pada masyarakat dengan tingkat sosial ekonomi lemah dan lingkungan yang buruk.

Penyebab rinitis atrofi (Ozaena) belum diketahui sampai sekarang. Namun ada beberapa keadaan yang dianggap berhubungan dengan terjadinya rinitis atrofi (Ozaena), yaitu :

  • Infeksi setempat.Paling banyak disebabkan oleh Klebsiella Ozaena. Selain golongan Klebsiella, kuman spesifik penyebab lainnya antara lain Stafilokokus, Streptokokus, dan Pseudomonas aeuruginosa.
  • Defisiensi.Defisiensi Fe dan vitamin A.
  • Infeksi sekunder.Sinusitis kronis.
  • Kelainan hormon.
  • Penyakit kolagen. Penyakit kolagen yang termasuk penyakit autoimun.

Perubahan histopatologi dalam hidung pada rinitis atrofi (Ozaena), yaitu :

  • Mukosa hidung. Berubah menjadi lebih tipis.
  • Silia hidung. Silia akan menghilang.
  • Epitel hidung. Terjadi perubahan metaplasia dari epitel torak bersilia menjadi epitel kubik atau epitel gepeng berlapis.
  • Kelenjar hidung. Mengalami degenerasi, atrofi (bentuknya mengecil), atau jumlahnya berkurang.


Gejala klinik rinitis atrofi (Ozaena),
antara lain :

  • Napas. Napas berbau busuk.
  • Ingus / sekret. Ingus / sekret kental.
  • Kerak / krusta. Kerak / krusta berwarna hijau dan berbau busuk.
  • Penciuman. Penciuman menurun.
  • Hidung. Hidung rasa tersumbat.
  • Kepala. Kepala rasa sakit.

Pemeriksaan THT pada kasus rinitis atrofi (Ozaena) dapat kita temukan :

  • Rongga hidung. Rongga hidung sangat lapang.
  • Konka hidung. Konka nasi media dan konka nasi inferior mengalami hipotrofi atau atrofi.
  • Sekret. Sekret purulen dan berwarna hijau.
  • Krusta. Berwarna hijau.

Pemeriksaan penunjang pada kasus rinitis atrofi (Ozaena) yang dapat kita lakukan antara lain :

  • Transiluminasi.
  • Foto Rontgen. Foto sinus paranasalis.
  • Pemeriksaan mikroorganisme.
  • Uji resistensi kuman.
  • Pemeriksaan darah tepi.
  • Pemeriksaan Fe serum.
  • Pemeriksaan histopatologi.

Terapi rinitis atrofi (Ozaena) bertujuan untuk menghilangkan penyebab dan gejalanya. Ada 2 cara yang dapat kita lakukan untuk mengatasi rinitis atrofi (Ozaena), yaitu :
Pengobatan konservatif. Meliputi pemberian antibiotik, obat cuci hidung, dan simptomatik.
Operatif. Meliputi tindakan implantasi dan menutup.
Pemberian antibiotik pada rinitis atrofi (Ozaena) sebaiknya menggunakan antibiotik spektrum luas dan menyesuaikannya dengan hasil uji resistensi kuman.

Pemberian obat cuci hidung pada rinitis atrofi (Ozaena) bertujuan untuk menghilangkan bau busuk, dan membersihkan sekret & krusta. Bahan obat cuci hidung tersebut terdiri atas 3 pilihan, yaitu :
Betadin. Larutan betadin 1 sdm dalam air hangat 100 cc.
NaCl, NH4Cl, NaHCO3 aaa 9, & aqua 300 cc. Keempat larutan ini dicampur dan diambil 1 sdm lalu dicampur dalam 9 sdm air hangat. Larutan ini dihirup melalui hidung dan dikeluarkan dengan dihembuskan kuat-kuat atau dikeluarkan melalui mulut bila larutan masuk ke dalam nasofaring. Hal ini dilakukan 2 kali sehari.
Larutan garam dapur yang hangat.

Pemberian obat simptomatik pada rinitis atrofi (Ozaena) biasanya dengan pemberian preparat Fe.

Tindakan operatif dengan implantasi untuk menyempitkan rongga hidung.

Tindakan menutup lubang hidung dilakukan pada nares anterior. Penutupan pada koana menggunakan palatal flap. Penutupan ini berguna untuk mengistirahatkan mukosa hidung. Hal ini dilakukan selama 2 tahun.
Daftar Pustaka

Endang Mangunkusumo & Nusjirwan Rifki. Rinorea, Infeksi Hidung dan Sinus dalam Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga, Hidung, Tenggorok, Kepala & Leher. Ed. ke-5. dr. H. Efiaty Arsyad Soepardi, Sp.THT & Prof. dr. H. Nurbaiti Iskandar, Sp.THT (editor). Jakarta : Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 2006.

Technorati Tags: ,

Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by on December 29, 2007 in hidung

 

Polip hidung

Polip Hidung
Oleh : Muhammad al-Fatih II

Polip hidung adalah kelainan mukosa hidung dan sinus paranasal terutama kompleks osteomeatal (KOM) di meatus nasi medius berupa massa lunak yang bertangkai, bentuk bulat atau lonjong, berwarna putih keabu-abuan. Permukaannya licin dan agak bening karena banyak mengandung cairan. Sering bilateral dan multipel. Polip merupakan manifestasi dari berbagai penyakit dan sering dihubungkan dengan sinusitis, rinitis alergi, asma, dan lain-lain.

Etiologi Polip Hidung

Etiologi polip hidung belum diketahui secara pasti. Namun ada 3 faktor yang berperan dalam terjadinya polip nasi, yaitu :

  • Peradangan. Peradangan mukosa hidung dan sinus paranasal yang kronik dan berulang.
  • Vasomotor. Gangguan keseimbangan vasomotor.
  • Edema. Peningkatan tekanan cairan interstitial sehin

gga timbul edema mukosa hidung. Terjadinya edema ini dapat dijelaskan oleh fenomena Bernoulli.
Fenomena Bernoulli merupakan penjelasan dari hukum sunnatullah yaitu udara yang mengalir melalui tempat yang sempit akan menimbulkan tekanan negatif pada daerah sekitarnya sehingga jaringan yang lemah ikatannya akan terisap oleh tekanan negatif tersebut. Akibatnya timbullah edema mukosa. Keadaan ini terus berlangsung hingga terjadilah polip hidung.
Ada juga bentuk variasi polip hidung yang disebut polip koana (polip antrum koana).

Polip koana (polip antrum koana)
adalah polip yang besar dalam nasofaring dan berasal dari antrum sinus maksila. Polip ini keluar melalui ostium sinus maksila dan ostium asesorisnya lalu masuk ke dalam rongga hidung kemudian lanjut ke koana dan membesar dalam nasofaring.

Diagnosis Polip Hidung

Cara menegakkan diagnosa polip hidung, yaitu :

  • Anamnesis.
  • Pemeriksaan fisik. Terlihat deformitas hidung luar.
  • Rinoskopi anterior. Mudah melihat polip yang sudah masuk ke dalam rongga hidung.
  • Endoskopi. Untuk melihat polip yang masih kecil dan belum keluar dari kompleks osteomeatal.
  • Foto polos rontgen & CT-scan. Untuk mendeteksi sinusitis.
  • Biopsi. Kita anjurkan jika terdapat massa unilat

eral pada pasien berusia lanjut, menyerupai keganasan pada penampakan makroskopis dan ada gambaran erosi tulang pada foto polos rontgen.

Anamnesis untuk diagnosis polip hidung :

  • Hidung tersumbat.
  • Terasa ada massa didalam hidung.
  • Sukar membuang ingus.
  • Gangguan penciuman : anosmia & hiposmia.

Gejala sekunder. Bila disertai kelainan jaringan & organ di sekitarnya seperti post nasal drip, sakit kepala, nyeri muka, suara nasal (bindeng), telinga rasa penuh, mendengkur, gangguan tidur dan penurunan kualitas hidup.
Terapi Polip Hidung

Ada 3 macam terapi polip hidung, yaitu :

Medikamentosa : kortikosteroid, antibiotik & anti alergi.
Operasi : polipektomi & etmoidektomi.
Kombinasi : medikamentosa & operasi.

Berikan kortikosteroid pada polip yang masih kecil dan belum memasuki rongga hidung. Caranya bisa sistemik, intranasal atau kombinasi keduanya. Gunakan kortikosteroid sistemik dosis tinggi dan dalam jangka waktu singkat. Berikan antibiotik jika ada tanda infeksi. Berikan anti alergi jika pemicunya dianggap alergi.

Polipektomi merupakan tindakan pengangkatan polip menggunakan senar polip dengan bantuan anestesi lokal. Kategori polip yang diangkat adalah polip yang besar namun belum memadati rongga hidung.

Etmoidektomi
atau bedah sinus endoskopi fungsional (BSEF/FESS) merupakan tindakan pengangkatan polip sekaligus operasi sinus. Kriteria polip yang diangkat adalah polip yang sangat besar, berulang, dan jelas terdapat kelainan di kompleks osteomeatal.

Antibiotik sebagai terapi kombinasi pada polip hidung bisa kita berikan sebelum dan sesudah operasi. Berikan antibiotik bila ada tanda infeksi dan untuk langkah profilaksis pasca operasi.

Daftar Pustaka

Nuty W. Nizar & Endang Mangunkusumo. Polip Hidung dalam Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga, Hidung, Tenggorok, Kepala & Leher. Ed. ke-5. dr. H. Efiaty Arsyad Soepardi, Sp.THT & Prof. dr. H. Nurbaiti Iskandar, Sp.THT (editor). Jakarta : Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 2006.

Technorati Tags: , , ,

 
20 Comments

Posted by on December 29, 2007 in hidung

 
 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.