RSS

OSA

09 Feb

Mendengkur (snoring) adalah suara bising yang disebabkan oleh aliran udara
melalui sumbatan parsial saluran nafas pada bagian belakang hidung dan
mulut yang terjadi saat tidur. Sumbatan terjadi akibat kegagalan otot-otot
dilator saluran nafas atas melakukan stabilisasi jalan nafas pada saat tidur.
Gangguan tidur dengan gelaja utamanya mendengkur adalah  Obstructive
Sleep Apnoea (OSA).2

Obstructive Sleep Apnoea (OSA) ditandai dengan kolaps berulang dari
saluran nafas atas baik komplet atau parsial selama tidur. Akibatnya aliran
udara pernafasan berkurang (hipopnea) atau terhenti (apnea) sehingga
terjadi desaturasi oksigen  (hipoksemia) dan penderita berkali-kali terjaga
(arousal). Kadang-kadang penderita benar-benar terbangun pada saat apnea
di mana mereka merasa tercekik.

Gejala yang dapat ditemukan pada penderita OSA adalah mendengkur,
mengantuk yang berlebihan pada siang hari, rasa tercekik pada waktu tidur,
apnea, nokturia, sakit kepala pada pagi hari, penurunan libido sampai
impotensi dan enuresis, mudah tersinggung, depresi, kelelahan yang luar
biasa dan insomnia. Kebanyakan penderita mengeluhkan kantuk yang
sangat mengganggu pada siang hari sehingga menimbulkan masalah pada
pergaulan, pekerjaan dan meningkatkan risiko terjadinya kecelakaan lalu
lintas.4,6

terbangun tetapi terjadi  partial arousal yang berulang, berakibat pada
berkurangnya tidur dalam atau tidur gelombang lambat. Keadaan ini
menyebabkan penderita mengantuk pada siang hari, kurang perhatian,
konsentrasi dan ingatan terganggu. Kombinasi hipoksemia dan  partial
arousal yang disertai dengan peningkatan aktivitas adrenergik menyebabkan
takikardi dan hipertensi sistemik.  Banyak penderita OSA tidak merasa
mempunyai masalah dengan tidurnya dan datang ke dokter hanya karena
teman tidur mengeluhkan suara mendengkur yang keras (fase pre-
obstruktif) diselingi oleh keadaan senyap yang lamanya bervariasi (fase
apnea obstruktif).
3,12-14

Apnea pada orang dewasa didefinisikan sebagai tidak adanya aliran udara di
hidung atau mulut selama 10 detik atau lebih. Hipopnea didefinisikan
sebagai berkurangnya aliran udara sebesar 30% selama 10 detik atau lebih,
dengan atau tanpa desaturasi.

OSA pertama kali didiagnosis berdasarkan apnea index (AI), yaitu frekuensi
apnea rata-rata per jam tidur. Banyak ahli yang berpendapat seseorang
dikatakan menderita OSA bila AI > 5. Kemudian ternyata definisi ini sangat
menyederhanakan masalah dan kurang bermanfaat. Banyak individu
dengan AI > 5 tetapi asimtomatik dan sehat, sebaliknya gejala OSA yang
khas dapat ditemukan pada pasien-pasien dengan hipopnea periodik tanpa apnea sama sekali. Keadaan ini membuat para ahli sampai saat ini
menggunakan konsep Apnea-Hypopnea Index (AHI).

Pemeriksaan fisik pada pasien yang diduga menderita OSA difokuskan pada
visualisasi faring termasuk uvula,  lidah, dan tonsil, inspeksi bentuk dan
susunan tulang wajah, dan pemeriksaan tekanan darah.

Kelainan yang sering ditemukan pada penderita OSA di antaranya elongasi uvula, makroglosia, adenotonsilar hipertrofi,  retrognatia dan mikrognatia. Selainitu perlu juga dilakukan pengukuran tinggi dan berat badan.

Diagnosis OSA dibuat berdasarkan gangguan nafas yang ditemukan pada waktu tidur pada individu yang menunjukkan gejala terutama mengantuk pada siang hari dan mendengkur. OSA paling banyak diklasifikasikan menurut  AmericanAcademy of Sleep Medicine yaitu:
•  ringan (AHI 5-15)
•  sedang (AHI 15-30)
•  berat (AHI > 30)32

Tetapi penilaian ini masih belum disepakati oleh semua ahli. Klasifikasi lain
yang dihubungkan dengan  Respiratory Disturbance Index  (RDI) dan
beratnya hipoksemi seperti berikut:
RDI            SaO2 (%)
Mild              5-20         >85
Moderate   21-40        65-84
Severe         >40          <65

Pemeriksaan polisomnografi
meliputi pemeriksaan EEG, elektro-okulografi, elektromiografi, EKG, aliran
nafas di hidung atau mulut,  pulse oximetry, gerakan dinding dada dan
posisi tidur yang menghasilkan  apnea index (AI),  apnea-hypopnea index
(AHI) atau respiratory disturbance index (RDI).

Sumbatan yang ditemukan pada pemeriksaan  sleep nasoendoscopy
menurut Pringle dan Croft (1993) dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
•  Derajat 1  : hanya ditemukan vibrasi dari palatum
•  Derajat 2  : hanya ditemukan obstruksi palatum
•  Derajat 3  :  obstruksi palatum dan perluasan ke orofaring yang intermiten
•  Derajat 4  :  obstruksi pada beberapa level
•  Derajat 5  :  hanya ditemukan obstruksi pada basis lidah

Terapi bedah dapat dilakukan pada regio anatomi tertentu yang menyebabkan obstruksi saluran nafas sesuai dengan hasil pemeriksaan sleep endoscopy.
Beberapa prosedur operasi dapat dilakukan:
1.  Tonsilektomi dan adenoidektomi. Pada penderita OSA dengan tonsil
yang besar, tonsilektomi dapat menghilangkan gejala secara komplet
dan tidak memerlukan terapi CPAP.

2.  Uvulopalatofaringoplasti (UPPP)  dan uvulopalatoplasti. Hasilnya
tidak sebaik CPAP pada penderita OSA yang berat. Angka keberhasilan
dengan teknik ini mencapai 10-15%.

Morbiditas yang tinggi akibat operasi uvulopalatofaringoplasti konvensional dapat dihindari dengan menggunakan laser ataudengan menggunakan radiofrekuensi  coblation. Hasilnya dalamjangka pendek cukup baik, walaupun dapat terjadi rekurensi dalam jangka panjang.
3.  Pembedahan pada daerah hidung seperti septoplasti, bedah sinus
endoskopik fungsional dan konkotomi bisa menjadi terapi yang
efektif bila sumbatan terjadi di hidung. Kelainan hidung harus dicari
pada penderita yang mengalami gejala hidung pada pengobatan
dengan CPAP.
4.  Tindakan bedah pada mandibula atau maksila (maxillomandibular
osteotomy dan advancement).
5.  Lidah: lingual tonsillectomy, laser midline glossectomy, lingualplasti
dan ablasi massa lidah dengan teknik radiofrekuensi.
6.  Kadang-kadang perlu dilakukan hyoid myotomy and suspension.
7.  Teknik terbaru menggunakan alat somnoplasty89
dengan radiofrekuensi
Celon® atau  Coblation®, dan pemasangan implan  Pillar® pada
palatum.
Teknik radiofrekuensi menghasilkan perubahan ionik pada jaringan,
menginduksi nekrosis jaringan sehingga menyebabkan reduksi
volume palatum tanpa kerusakan pada mukosa dan menghilangkan
vibrasi (kaku).
Implan  Pillar® atau implan palatal merupakan teknik yang relatif
baru, merupakan modalitas dengan invasi minimal. Digunakan
untuk penderita dengan  habitual  snoring dan OSA ringan sampai
sedang. Prosedur ini bertujuan untuk memberi kekakuan pada
palatum mole. Tiga buah batang kecil diinsersikan ke palatum mole
untuk membantu mengurangi getaran yang menyebabkan snoring.

image

image

image

image

 
1 Comment

Posted by on February 9, 2009 in tenggorok

 

Tags: , , , ,

One response to “OSA

  1. dhika uliyandari

    December 29, 2009 at 1:53 pm

    wah, artikelnya sangat membantu dok.. pas banget lagi cari bahan bacaan OSA utk BBDM. hehe.. artikel-artikel lain juga bagus-bagus. semoga bisa terus berkarya, dok. salam.

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: