RSS

Mengenal Tumor Ganas Laring

25 Jan

 

21 November 2007

Technorati Tags: ,

Mengenal Tumor Ganas Laring Penemuan kasus-kasus stadium awal atau deteksi dini keganasan laring sangat penting dalam meningkatkan keberhasilan pengobatan keganasan laring. Untuk meningkatkan penemuan kasus-kasus dalam stadium dini keganasan laring, perlu ditingkatkan kepedulian masyarakat dan tenaga kesehatan atas gejala-gejala dini keganasan laring. Laring merupakan bagian paling bawah dari saluran napas atau yang berbentuk limas segi tiga terpancung dengan bagian atas lebih besar dari pada bagian bawah. Kerangka laring tersusun dari satu tulang (hioid) dan beberapa tulang rawan (epiglottis, aritenoid dan krikoid). Gerak laring dilakukan oleh kelompok otot-otot ekstrinsik dan intrinsik. Otot ekstrinsik terutama bekerja pada laring secara keseluruhan sedangkan otot intrinsik menyebabkan gerak di bagian laring sendiri. "Laring terbagi menjadi tiga daerah anatomi yaitu supraglotis, glotis dan subglotis. Kurang lebih 60 persen keganasan laring ditemukan di daerah glottis, 35 persen berasal dari daerah supraglotis dan hanya 5 persen berasal dari subglotis. Pada stadium lanjut biasanya tumor sudah meluas ke glottis, supraglotis dan subglotis atau transglotis sehingga sulit ditentukan asalnya," ujar Prof. dr. Bambang Hermani, Sp. THT-KL(K), dari Ilmu Penyakit THT Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI RSCM). Laring merupakan organ vital pada tubuh manusia yang berfungsi sebagai organ mempertahankan jalan napas, melindungi jalan napas dan paru paru, membantu mengatur sirkulasi, sumber suara atau fonasi, membantu proses menelan, dan mengekspresikan emosi. Adanya gangguan atau kelainan pada laring akan menyebabkan pula gangguan fungsi laring yang dapat menurunkan kualitas hidup, bahkan dapat menyebabkan kematian. "Suara serak adalah gejala dini yang utama pada keganasan laring, terutama bila tumor berasal dari pita suara atau glottis. Ini disebabkan adanya gangguan fungsi fonasi laring akibat ketidakteraturan pita suara, gangguan pergerakan/getaran pita suara dan penyempitan celah pita suara. Seseorang dengan suara serak yang menetap selama dua minggu atau lebih, apalagi mempunyai faktor resiko yang sesuai, harus diwaspadai adanya keganasan laring (glottis). Sementara untuk tumor supraglotis dan subglotis, suara serak bukan merupakan keluhan pertama namun biasanya akan timbul jika tumor sudah menyebar ke pita suara," paparnya. Sesak napas atau dispnea dan napas berbunyi (stridor), lanjutnya, adalah gejala akibat gangguan jalan napas oleh massa tumor serta sudah terjadinya fiksasi gerak pita suara. Adanya gejala-gejala tersebut menjadi tanda tumor sudah masuk ke stadium yang lebih lanjut. "Nyeri menelan batuk dan hemoptisis serta disfagia dapat timbul tergantung dari perluasan tumor. Adanya pembesaran kelenjar getah bening leher dipertimbangkan sebagai penyebaran tumor dan ini menunjukkan tumor sudah stadium lanjut," tandasnya. Penyebab tumor ganas laring sampai saat ini belum diketahui secara pasti. Namun, terdapat berbagai macam faktor risiko yang terkait dengan perkembangan tumor ganas laring. "Rokok adalah faktor risiko yang memiliki kaitan paling kuat dengan keganasan laring maupun keganasan di saluran aerodigestif lain seperti esophagus dan paru. Dari studi yang dilakukan Maier dan DeStefani secara terpisah ditemukan 96,5 persen dan 97,2 persen pasien dengan keganasan laring adalah perokok atau mantan perokok. Penelitian Wynder menyebutkan, terdapat peningkatan risiko sebesar 30 kali pada pria yang merokok sedikitnya satu setengah bungkus sehari selama lebih dari sepuluh tahun sedangkan penelitian yang dilakukan di RSCM pada tahun 1988 didapatkan 89 persen penderita tumor ganas laring adalah perokok berat," terangnya. Alkohol juga merupakan faktor risiko dari keganasan laring. Menurut American Cancer Society tahun 2000, risiko relatif peminum alkohol meningkat lima kali dibandingkan dengan yang tidak minum alkohol sedangkan perokok jika digabung dengan peminum alkohol mempunyai risiko 100 kali dibandingkan dengan yang tidak merokok dan tidak peminum. "Faktor risiko pekerjaan hubungan antara pekerjaan dengan perkembangan keganasan laring jarang ditemukan dan tidak terdokumentasi dengan baik. Tetapi dilaporkan pajanan yang lama dengan debu kayu, asbes, produk tar dan beberapa debu industri kimia juga merupakan faktor risiko terjadinya keganasan laring," tukasnya. Di samping faktor-faktor di atas, diet dan defisiensi vitamin A dan C ditengarai juga menjadi faktor risiko. Mettlin menyebutkan, terdapat peningkatan 4,75 kali lipat pada orang yang mengonsumsi buah-buahan sayuran kurang dari 40 kali per bulan dibandingkan yang mengonsumsi lebih dari 80 kali per bulan. Selain itu, Gastro Esophageal Reflux Disease (GERD) dan Human Papilloma Virus (HPV) juga dilaporkan sebagai salah satu faktor risiko. Tumor ganas laring, dia menambahkan, dapat dijumpai di berbagai belahan dunia dengan insiden yang bervariasi. Menurut laporan The American Cancer Society tahun 2006 di Amerika tercatat 12.000 kasus baru dan 4740 kasus meninggal karena tumor ganas laring. Pusat Kanker Nasional Amerika melaporkan 8,5 kasus karsinoma laring ditemukan per 100.000 penduduk laki-laki dan 1,3 kasus per 100.000 penduduk wanita per tahun. Di beberapa negara Eropa tumor ganas laring merupakan tumor ganas terbanyak di bidang THT-KL. Sementara laporan WHO yang mencakup 35 negara memperkirakan 1,5 orang dari 100.000 penduduk meninggal karena tumor ganas laring. "Di Indonesia angka kekerapan tumor ganas laring belum dapat didata secara pasti, tetapi dapat diperkirakan mencapai kurang lebih 1 persen dari semua keganasan dan menempati urutan ketiga tumor ganas terbanyak di bidang THT setelah tumor ganas nasofaring dan tumor ganas hidung dan sinus paranasal. Di Bagian THT FKUI RSCM selama periode 1982 sampai 1987 dilaporkan proporsi tumor ganas laring sebesar 13,8 persen dari 1030 kasus keganasan THT. Sampai saat ini ditemukan rata-rata 40 kasus per tahun sedangkan di Bandung 20 kasus, Denpasar 6 kasus, Malang 12 kasus dan Surabaya 25 kasus," dia menjabarkan. Untuk jenis kelamin, imbuhnya, perbandingan penderita laki-laki dan perempuan berkisar antara 11:1 di mana terbanyak pada usia 45-60 tahun. Namun, akhir-akhir ini jumlah penderita perempuan semakin meningkat, yang menurutnya kemungkinan diakibatkan adanya kecenderungan makin banyak perempuan yang merokok. "Di Indonesia umumnya penderita tumor ganas laring datang berobat sudah dalam stadium lanjut. Data di RSCM 80 persen penderita pertama kali didiagnosis dalam stadium 3 dan stadium 4. Stadium penyakit pada waktu pertama kali didiagnosis akan mempengaruhi metode pengobatan, kecacatan dan harapan hidup penderita," tegasnya. Secara umum, dia menyatakan, terdapat tiga jenis penatalaksanaan keganasan laring yaitu operasi, radiasi dan kemoterapi atau kombinasi dua atau tiga modalitas tersebut. Pengobatan yang dipilih bergantung pada stadium perluasan invasi tumor menurut klasifikasi TNM sedangkan tindakan operasi yang dilakukan dapat berupa pengangkatan seluruh organ laring (laringektomi total) atau pengangkatan sebagian dari organ laring (laringektomi parsial). "Pada laringektomi parsial dapat berupa hemilaringektomi atau supraglotik laringektomi, tergantung dari lokasi dan penyebaran tumor. Laringektomi total sebagai terapi pada pasien keganasan laring akan menyebabkan kecacatan. Dengan pengangkatan seluruh organ laring beserta pita suara yang ada di dalamnya, maka pasien akan menjadi tidak dapat bersuara atau afoni dan selanjutnya bernapas melalui lubang di leher berupa stoma permanen," katanya. Dia mengutarakan, secara umum rehabilitasi pascaoperasi bertujuan agar pasien dapat bersosialisasi dan berkomunikasi kembali dan bisa hidup mandiri. Unsur terpenting dalam rehabilitasi adalah rehabilitasi suara, di samping rehabillitasi secara psikolgis. Rehabilitasi suara dapat dilakukan melalui teknik ‘esophageal speech’ yaitu dengan cara menelan udara dan mengumpulkannya di dalam esophagus/lambung kemudian dikeluarkan secara terkontrol untuk menghasilkan suara. "Untuk pasien yang tidak dapat mempelajari teknik ‘esophageal speech’ dapat memakai alat bantu berupa vibrator listrik untuk menghasilkan suara. Selain itu, salah satu usaha untuk mengatasi afoni adalah dengan memasang ‘voice prostese’ pada daerah tracheaesophageal. Pemasangan ini dapat dilakukan pada waktu operasi (primer) atau beberapa saat setelah operasi (sekunder). Cara ini dapat menghasilkan suara paling baik, hanya kendalanya adalah harganya yang masih relatif mahal dan memerlukan perawatan khusus," sahutnya.

KBI Gemari

 
Leave a comment

Posted by on January 25, 2009 in laring

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: