RSS

Kriteria Rinosinusitis Akut dan Kronik pada Anak dan Dewasa

Tabel 1. Kriteria Rinosinusitis Akut dan Kronik pada Anak dan Dewasa Menurut International Conference on Sinus Disease 1993 & 2004. Disarikan dari : Kennedy DW14 dan Meltzer15.


KRITERIA

RINOSINUSITIS AKUT

RINOSINUSITIS KRONIK

Dewasa

Anak

Dewasa

Anak

1.

Lama Gejala dan Tanda

< 12

minggu

< 12 minggu

> 12

minggu

> 12

minggu

2.

Jumlah episode serangan akut, masing-masing berlangsung minimal 10 hari

< 4 kali / tahun

< 6 kali / tahun

> 4 kali / tahun

> 6 kali / tahun

3.

Reversibilitas mukosa

Dapat sembuh sempurna dengan pengobatan medikamentosa

Tidak dapat sembuh sempurna dengan pengobatan medikamentosa

 
Leave a comment

Posted by on February 10, 2009 in hidung

 

Tags: , , ,

Ikuti Simposium Gangguan Pendengaran

What: Smposium Gangguan Pendengaran dan Tinitus
When: Sabtu, Februari 28, 2009 (all day)
Where:
Graha Santika Premiere
Semarang,
 
2 Comments

Posted by on February 9, 2009 in soal soal ujian

 

OSA

Mendengkur (snoring) adalah suara bising yang disebabkan oleh aliran udara
melalui sumbatan parsial saluran nafas pada bagian belakang hidung dan
mulut yang terjadi saat tidur. Sumbatan terjadi akibat kegagalan otot-otot
dilator saluran nafas atas melakukan stabilisasi jalan nafas pada saat tidur.
Gangguan tidur dengan gelaja utamanya mendengkur adalah  Obstructive
Sleep Apnoea (OSA).2

Obstructive Sleep Apnoea (OSA) ditandai dengan kolaps berulang dari
saluran nafas atas baik komplet atau parsial selama tidur. Akibatnya aliran
udara pernafasan berkurang (hipopnea) atau terhenti (apnea) sehingga
terjadi desaturasi oksigen  (hipoksemia) dan penderita berkali-kali terjaga
(arousal). Kadang-kadang penderita benar-benar terbangun pada saat apnea
di mana mereka merasa tercekik.

Gejala yang dapat ditemukan pada penderita OSA adalah mendengkur,
mengantuk yang berlebihan pada siang hari, rasa tercekik pada waktu tidur,
apnea, nokturia, sakit kepala pada pagi hari, penurunan libido sampai
impotensi dan enuresis, mudah tersinggung, depresi, kelelahan yang luar
biasa dan insomnia. Kebanyakan penderita mengeluhkan kantuk yang
sangat mengganggu pada siang hari sehingga menimbulkan masalah pada
pergaulan, pekerjaan dan meningkatkan risiko terjadinya kecelakaan lalu
lintas.4,6

terbangun tetapi terjadi  partial arousal yang berulang, berakibat pada
berkurangnya tidur dalam atau tidur gelombang lambat. Keadaan ini
menyebabkan penderita mengantuk pada siang hari, kurang perhatian,
konsentrasi dan ingatan terganggu. Kombinasi hipoksemia dan  partial
arousal yang disertai dengan peningkatan aktivitas adrenergik menyebabkan
takikardi dan hipertensi sistemik.  Banyak penderita OSA tidak merasa
mempunyai masalah dengan tidurnya dan datang ke dokter hanya karena
teman tidur mengeluhkan suara mendengkur yang keras (fase pre-
obstruktif) diselingi oleh keadaan senyap yang lamanya bervariasi (fase
apnea obstruktif).
3,12-14

Apnea pada orang dewasa didefinisikan sebagai tidak adanya aliran udara di
hidung atau mulut selama 10 detik atau lebih. Hipopnea didefinisikan
sebagai berkurangnya aliran udara sebesar 30% selama 10 detik atau lebih,
dengan atau tanpa desaturasi.

OSA pertama kali didiagnosis berdasarkan apnea index (AI), yaitu frekuensi
apnea rata-rata per jam tidur. Banyak ahli yang berpendapat seseorang
dikatakan menderita OSA bila AI > 5. Kemudian ternyata definisi ini sangat
menyederhanakan masalah dan kurang bermanfaat. Banyak individu
dengan AI > 5 tetapi asimtomatik dan sehat, sebaliknya gejala OSA yang
khas dapat ditemukan pada pasien-pasien dengan hipopnea periodik tanpa apnea sama sekali. Keadaan ini membuat para ahli sampai saat ini
menggunakan konsep Apnea-Hypopnea Index (AHI).

Pemeriksaan fisik pada pasien yang diduga menderita OSA difokuskan pada
visualisasi faring termasuk uvula,  lidah, dan tonsil, inspeksi bentuk dan
susunan tulang wajah, dan pemeriksaan tekanan darah.

Kelainan yang sering ditemukan pada penderita OSA di antaranya elongasi uvula, makroglosia, adenotonsilar hipertrofi,  retrognatia dan mikrognatia. Selainitu perlu juga dilakukan pengukuran tinggi dan berat badan.

Diagnosis OSA dibuat berdasarkan gangguan nafas yang ditemukan pada waktu tidur pada individu yang menunjukkan gejala terutama mengantuk pada siang hari dan mendengkur. OSA paling banyak diklasifikasikan menurut  AmericanAcademy of Sleep Medicine yaitu:
•  ringan (AHI 5-15)
•  sedang (AHI 15-30)
•  berat (AHI > 30)32

Tetapi penilaian ini masih belum disepakati oleh semua ahli. Klasifikasi lain
yang dihubungkan dengan  Respiratory Disturbance Index  (RDI) dan
beratnya hipoksemi seperti berikut:
RDI            SaO2 (%)
Mild              5-20         >85
Moderate   21-40        65-84
Severe         >40          <65

Pemeriksaan polisomnografi
meliputi pemeriksaan EEG, elektro-okulografi, elektromiografi, EKG, aliran
nafas di hidung atau mulut,  pulse oximetry, gerakan dinding dada dan
posisi tidur yang menghasilkan  apnea index (AI),  apnea-hypopnea index
(AHI) atau respiratory disturbance index (RDI).

Sumbatan yang ditemukan pada pemeriksaan  sleep nasoendoscopy
menurut Pringle dan Croft (1993) dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
•  Derajat 1  : hanya ditemukan vibrasi dari palatum
•  Derajat 2  : hanya ditemukan obstruksi palatum
•  Derajat 3  :  obstruksi palatum dan perluasan ke orofaring yang intermiten
•  Derajat 4  :  obstruksi pada beberapa level
•  Derajat 5  :  hanya ditemukan obstruksi pada basis lidah

Terapi bedah dapat dilakukan pada regio anatomi tertentu yang menyebabkan obstruksi saluran nafas sesuai dengan hasil pemeriksaan sleep endoscopy.
Beberapa prosedur operasi dapat dilakukan:
1.  Tonsilektomi dan adenoidektomi. Pada penderita OSA dengan tonsil
yang besar, tonsilektomi dapat menghilangkan gejala secara komplet
dan tidak memerlukan terapi CPAP.

2.  Uvulopalatofaringoplasti (UPPP)  dan uvulopalatoplasti. Hasilnya
tidak sebaik CPAP pada penderita OSA yang berat. Angka keberhasilan
dengan teknik ini mencapai 10-15%.

Morbiditas yang tinggi akibat operasi uvulopalatofaringoplasti konvensional dapat dihindari dengan menggunakan laser ataudengan menggunakan radiofrekuensi  coblation. Hasilnya dalamjangka pendek cukup baik, walaupun dapat terjadi rekurensi dalam jangka panjang.
3.  Pembedahan pada daerah hidung seperti septoplasti, bedah sinus
endoskopik fungsional dan konkotomi bisa menjadi terapi yang
efektif bila sumbatan terjadi di hidung. Kelainan hidung harus dicari
pada penderita yang mengalami gejala hidung pada pengobatan
dengan CPAP.
4.  Tindakan bedah pada mandibula atau maksila (maxillomandibular
osteotomy dan advancement).
5.  Lidah: lingual tonsillectomy, laser midline glossectomy, lingualplasti
dan ablasi massa lidah dengan teknik radiofrekuensi.
6.  Kadang-kadang perlu dilakukan hyoid myotomy and suspension.
7.  Teknik terbaru menggunakan alat somnoplasty89
dengan radiofrekuensi
Celon® atau  Coblation®, dan pemasangan implan  Pillar® pada
palatum.
Teknik radiofrekuensi menghasilkan perubahan ionik pada jaringan,
menginduksi nekrosis jaringan sehingga menyebabkan reduksi
volume palatum tanpa kerusakan pada mukosa dan menghilangkan
vibrasi (kaku).
Implan  Pillar® atau implan palatal merupakan teknik yang relatif
baru, merupakan modalitas dengan invasi minimal. Digunakan
untuk penderita dengan  habitual  snoring dan OSA ringan sampai
sedang. Prosedur ini bertujuan untuk memberi kekakuan pada
palatum mole. Tiga buah batang kecil diinsersikan ke palatum mole
untuk membantu mengurangi getaran yang menyebabkan snoring.

image

image

image

image

 
1 Comment

Posted by on February 9, 2009 in tenggorok

 

Tags: , , , ,

Mastoiditis

 

Definisi
Mastoiditis adalah segala proses peradangan pada  sel- sel mastoid yang terletak pada tulang temporal. Biasanya timbul pada anak-anak atau orang dewasa yang sebelumnya telah menderita infeksi akut pada telinga tengah. Gejala-gejala awal yang timbul adalah gejala-gejala peradangan pada telinga tengah, seperti demam, nyeri pada telinga, hilangnya sensasi pendengaran, bahkan kadang timbul suara berdenging pada satu sisi telinga (dapat juga pada sisi telinga yang lainnya)

Epidemiologi
Masih belum diketahui secara pasti , tetapi biasanya terjadi pada pasien-pasien muda dan pasien dengan gangguan system imu.

Patofisiologi / Etiologi
Mastoiditis adalah hasil dari infeksi yang lama pada telinga tengah, bakteri yang didapat pada mastoiditis biasanya sama dengan bakteri yang didapat pada infeksi telinga tengah. Bakteri gram negative dan streptococcus aureus adalah beberapa bakteri yang paling sering didapatkan pada infeksi ini. Seperti telah disebutkan diatas, bahwa keadaan-keadaan yang menyebabkan penurunan dari system imunologi dari seseorang juga dapat menjadi faktor predisposisi mastoiditis. Pada beberapa penelitian terakhir, hampir sebagian dari anak-anak yang menderita mastoiditis, tidak memiliki penyakit infeksi telinga tengah sebelumnya. Bakteri yang berperan pada penderita anak-anak ini adalah S. Pnemonieae.
Seperti semua penyakit infeksi, beberapa hal yang mempengaruhi berat dan ringannya penyakit adalah faktor tubuh penderita dan faktor dari bakteri itu sendiri. Dapat dilihat dari angka kejadian anak-anak yang biasanya berumur di bawah dua tahun, pada usia inilah imunitas belum baik. Beberapa faktor lainnya seperti bentuk tulang, dan jarak antar organ juga dapat menyebabkan timbulnya penyakit.  Faktor-faktor dari bakteri sendiri adalah, lapisan pelindung pada dinding bakteri,  pertahanan terhadap antibiotic dan kekuatan penetrasi bakteri terhadap jaringan keras dan lunak dapat berperan pada berat dan ringannya penyakit.

Technorati Tags: ,

 

Gejala
Dari keluhan penyakit didapatkan keluarnya cairan dari dalam telinga yang selama lebih dari tiga minggu, hal ini menandakan bahwa pada infeksi telinga tengah sudah melibatkan organ mastoid. Gejala demam biasanya hilang dan timbul, hal ini disebabkan infeksi telinga tengah sebelumnya dan pemberian antibiotik pada awal-awal perjalanan penyakit. Jika demam tetap dirasakan setelah pemberian antibiotik  maka kecurigaan pada infeksi mastoid lebih besar. Rasa nyeri biasanya dirasakan dibagian belakang telinga dan dirasakan lebih parah pada malam hari, tetapi hal ini sulit didapatkan pada pasien-pasien yang masih bayi dan belum dapat berkomunikasi. Hilangnya pendengaran dapat timbul atau tidak bergantung pada besarnya kompleks mastoid akibat infeksi.
            Dari pemeriksaan fisik didapatkan

  • Kemerahan pada kompleks mastoid
  • Keluarnya cairan baik bening maupun berupa lendir (warna bergantung dari bakteri)
  • Matinya jaringan keras (tulang, tulang rawan)
  • Adanya abses (kumpulan jaringan mati dan nanah)
  • Proses peradangan yang tetap melebar ke bagian dan organ lainnya.
  • Riwayat infeksi pada telinga tengah sebelumnnya.

Pemeriksaan penunjang yang dapat diminta adalah, pemeriksaan kultur mikrobiologi, pengukuran sel darah merah dan sel darah putih yang menandakan adanya infeksi, pemeriksaan cairan sumsum untuk menyingkirkan adanya penyebaran ke dalam ruangan di dalam kepala. Pemeriksaan lainnnya adalah CT-scan kepala, MRI-kepala dan foto polos kepala.

Tatalaksana
Pengobatan dengan obat-obatan seperti antibiotik, anti nyeri, anti peradangan dan lain-lainnya adalah lini pertama dalam pengobatan mastoiditis.  Tetapi pemilihan anti bakteri harus tepat sesuai dengan hasil test kultur dan hasil resistensi. Pengobatan yang lebih invasif adalah pembedahan pada mastoid. Bedah yang dilakukan berupa bedah terbuka, hal ini dilakukan jika dengan pengobatan tidak dapat membantu mengembalikan ke fungsi yang normal.

 
1 Comment

Posted by on January 25, 2009 in telinga

 

TUMOR GANAS LARING

T. SITI HAJAR HARYUNA
Bagian Patologi Anatomi
Fakultas Kedokteran
Universitas Sumatera Utara

PENDAHULUAN

  Tumor ganas laring bukanlah hal yang jarang ditemukan di bidang THT.
Sebagai gambaran, diluar negeri tumor  ganas laring menempati urutan  pertama
dalam urutan keganasan di  bidang THT, sedangkan di RSCM menempati urutan
ketiga setelah karsinoma nasofaring, tumor ganas hidung dan sinus paranasal.1
  Tumor Ganas laring lebih sering  mengenai laki-laki dibanding perempuan,
dengan perbandingan 5 : 1. Terbanyak pada usia 56-69 tahun.1,2
  Etiologi pasti sampai saat ini belum diketahui, namun didapatkan beberapa
hal yang berhubungan erat dengan terjadinya keganasan laring  yaitu : rokok,
alkohol, sinar radioaktif, polusi udara radiasi leher dan asbestosis.1,3
Untuk menegakkan  diagnosa tumor ganas laring masih  belum memuaskan,
hal ini disebabkan antara lain karena letaknya dan sulit untuk dicapai sehingga
dijumpai bukan pada stadium awal lagi. Biasanya pasien datang dalam keadaan yang
sudah  berat sehingga  hasil pengobatan yang diberikan kurang memuaskan. Yang
terpenting pada penanggulangan tumor ganas laring ialah diagnosa dini.1,4,5
Secara umum penatalaksanaan tumor ganas laring adalah dengan
pembedahan, radiasi, sitostatika ataupun kombinasi daripadanya, tergantung
stadium penyakit dan keadaan umum penderita.1,6
ANATOMI7,8,9
  Laring dibentuk oleh sebuah tulang di bagian atas dan beberapa tulang rawan
yang saling berhubungan satu sama lain dan diikat oleh otot intrinsik dan ekstrinsik
serta dilapisi oleh mukosa.
Tulang dan tulang rawan laring yaitu :
1.  Os Hioid: terletak paling atas, berbentuk huruf  “U”, mudah diraba pada  leher
bagian depan. Pada kedua sisi tulang  ini terdapat prosesus longus dibagian
belakang dan prosesus brevis bagian depan. Permukaan bagian atas tulang ini
melekat pada otot-otot lidah, mandibula dan tengkorak.
2.  Kartilago tiroid : merupakan tulang rawan  laring yang terbesar, terdiri dari dua
lamina yang bersatu di bagian depan dan mengembang ke arah belakang.
3.  Kartilago Krikoid : terletak di belakang kartilago tiroid  dan merupakan tulang
rawan paling bawah  dari laring. Di setiap sisi  tulang  rawan krikoid  melekat
ligamentum krikoaritenoid, otot krikoaritenoid lateral dan di bagian belakang
melekat otot krikoaritenoid posterior.
Otot-otot laring terdiri dari 2 golongan besar, yaitu :
1.  Otot-otot ekstrinsik :
Otot elevator :
-  M. Milohioid, M. Geniohioid, M. Digrastikus dan M. Stilohioid
Otot depressor :
- M. Omohioid, M. Sternohioid dan M. Tirohioid

Otot-otot Intrinsik :
Otot Adduktor dan Abduktor :
-  M. Krikoaritenoid, M. Aritenoid oblique dan transversum
Otot yang mengatur tegangan ligamentum vokalis :
-  M. Tiroaritenoid, M. Vokalis, M. Krikotiroid
Otot yang mengatur pintu masuk laring :
-  M. Ariepiglotik, M. Tiroepiglotik.
KEKERAPAN
  Kekerapan tumor ganas laring di beberapa tempat di dunia ini berbeda-beda.
Di Amerika Serikat pada tahun 1973 – 1976 dilaporkan 8,5 kasus karsinoma  laring
per 100.000 penduduk laki-laki dan 1.3  kasus  karsinoma laring per 100.000
penduduk perempuan. Pada akhir-akhir ini tercatat insiden tumor ganas laring pada
wanita meningkat. Ini dihubungkan dengan meningkatnya jumlah wanita  yang
merokok.9,10
Di RSUP H. Adam Malik Medan, Februari 1995 – Juni 2003 dijumpai 97 kasus
karsinoma laring dengan perbandingan laki  dan perempuan 8 : 1. Usia penderita
berkisar antara 30 sampai 79 tahun. Dari Februari 1995 – Februari 2000, 28 orang
diantaranya telah dilakukan operasi laringektomi total.
ETIOLOGI
  Penyebab pasti sampai saat ini belum diketahui, namun didapatkan beberapa
hal yang berhubungan erat dengan terjadinya keganasan laring  yaitu : rokok,
alkohol, sinar radio aktif, polusi udara, radiasi leher dan asbestosis. Ada peningkatan
resiko terjadinya tumor ganas laring pada pekerja-pekerja yang terpapar dengan
debu kayu.1,3,9,10,11
HISTOPATOLOGI
  Karsinoma sel skuamosa meliputi 95 – 98% dari semua tumor ganas laring,
dengan  derajat difrensiasi yang berbeda-beda. Jenis lain yang jarang kita jumpai
adalah karsinoma anaplastik, pseudosarkoma, adenokarsinoma dan sarkoma.
2,10
  Karsinoma Verukosa. Adalah satu tumor yang secara histologis
kelihatannya jinak, akan tetapi klinis ganas. Insidennya 1 – 2% dari seluruh tumor
ganas laring, lebih banyak mengenai pria  dari wanita  dengan  perbandingan  3 : 1.
Tumor tumbuh lambat tetapi dapat membesar sehingga dapat menimbulkan
kerusakan lokal yang luas.  Tidak terjadi metastase regional atau jauh.
Pengobatannya dengan operasi, radioterapi tidak efektif dan merupakan
kontraindikasi. Prognosanya sangat baik.2,12
  Adenokarsinoma. Angka insidennya 1% dari seluruh tumor ganas laring.
Sering dari kelenjar mukus  supraglotis dan subglotis dan  tidak pernah dari glottis.
Sering bermetastase ke paru-paru dan hepar. two years survival  rate-nya sangat
rendah. Terapi yang dianjurkan adalah reseksi radikal dengan diseksi kelenjar  limfe
regional dan radiasi pasca operasi.12
  Kondrosarkoma. Adalah tumor ganas yang berasal dari tulang rawan krikoid
70%, tiroid 20% dan aritenoid 10%. Sering pada laki-laki 40 – 60 tahun. Terapi yang
dianjurkan adalah laringektomi total.12
KLASIFIKASI1-10
  Berdasarkan Union International Centre le Cancer (UICC) 1982, klasifikasi dan
stadium tumor ganas laring terbagi atas :
1.  Supraglotis
2.  Glotis
3.  Subglotis
Yang termasuk supraglotis adalah : permukaan posterior epiglotis  yang terletak di
sekitar os hioid, lipatan ariepiglotik, aritenoid, epiglotis yang  terletak di bawah os
hioid, pita suara palsu, ventrikel.
Yang termasuk glottis  adalah :  pita suara  asli, komisura anterior dan komisura
posterior.
Yang termasuk subglotis adalah : dinding subglotis.

Klasifikasi dan stadium tumor berdasarkan UICC :
1.  Tumor primer (T)
Supra glottis :
T is  : tumor insitu
T 0  :  tidak jelas adanya tumor primer l
T 1    : tumor terbatas di supra glotis dengan pergerakan normal
T 1a  :  tumor terbatas pada  permukaan laring epiglotis, plika ariepiglotika,
ventrikel atau pita suara palsu satu sisi.
T 1b  :  tumor telah mengenai epiglotis dan meluas ke rongga ventrikel atau
pita suara palsu
T 2  :  tumor telah meluas ke glotis tanpa fiksasi
T 3  :  tumor terbatas pada laring dengan fiksasi dan / atau adanya infiltrasi
ke dalam.   
T 4  :  tumor dengan penyebaran langsung sampai ke luar laring.
Glotis :
T is  :  tumor insitu
T 0  : tak jelas adanya tumor primer
T 1  :  tumor terbatas pada pita suara  (termasuk  komisura anterior dan
posterior) dengan pergerakan normal
T 1a   :  tumor terbatas pada satu pita suara asli
T 1b  :  tumor mengenai kedua pita suara
T 2  :  tumor terbatas di laring dengan perluasan daerah supra glotis
maupun subglotis dengan pergerakan pita suara normal atau
terganggu.
T 3  :  tumor terbatas pada laring dengan fiksasi dari satu atau ke dua pita
suara
T 4   :  tumor dengan perluasan ke luar laring
Sub glotis :
T is  :  tumor insitu
T 0  : tak jelas adanya tumor primer
T 1  :  tumor terbatas pada subglotis
T 1a   :  tumor terbatas pada satu sisi
T 1b  :  tumor telah mengenai kedua sisi
T 2  :  tumor terbatas di laring dengan perluasan pada satu atau kedua pita
suara asli dengan pergerakan normal atau terganggu
T 3  :  tumor terbatas pada laring dengan fiksasi satu atau kedua pita suara
T 4   :  tumor dengan kerusakan tulang rawan dan/atau meluas keluar
laring.

2.  Pembesaran kelenjar getah bening leher (N)
N x  : kelenjar tidak dapat dinilai
N 0  :  secara klinis tidak ada kelenjar.
N 1   :  klinis terdapat kelenjar homolateral dengan diameter ≤ 3 cm
N 2  :  klinis terdapat kelenjar homolateral dengan  diameter >3 – <6 cm
atau klinis terdapat kelenjar homolateral multipel dengan diameter ≤
6 cm
N 2a  :  klinis terdapat satu kelenjar homolateral dengan diameter > 3 cm – ≤
6 cm.
N 2b  :  klinis terdapat kelenjar homolateral multipel dengan diameter ≤  6 cm
N 3   :  kelenjar homolateral yang masif, kelenjar bilateral atau kontra lateral
N 3 a  :  klinis terdapat kelenjar homolateral dengan diameter > 6 cm
N 3 b  :  klinis terdapat kelenjar bilateral
N 3 c  : klinis hanya terdapat kelenjar kontra lateral

3.  Metastase jauh (M)
M 0  :  tidak ada metastase jauh
M 1  :  terdapat metastase jauh
4.  Stadium :
Stadium I    : T1 N0 M0
Stadium II  : T2 N0 M0
Stadium III  : T3 N0 M0
        T1, T2, T3,     N1,     M0
Stadium IV  : T4, N0, M0
        Setiap T, N2, M0,      setiap T, setiap N , M1

GEJALA DAN TANDA
Gejala dan tanda yang sering dijumpai adalah :1-3,15
•  Suara serak
•  Sesak nafas dan stridor
•  Rasa nyeri di tenggorok
•  Disfagia
•  Batuk dan haemoptisis
•  Pembengkakan pada leher

DIAGNOSIS
Diagnosis ditegakkan berdasarkan :1-3,15
1.  Anamnese
2.  Pemeriksaan THT rutin
3.  Laringoskopi direk
4.  Radiologi foto polos leher dan dada
5.  Pemeriksaan radiologi khusus : politomografi, CT-Scan, MRI
6.  Pemeriksaan hispatologi dari biopsi laring sebagai diagnosa pasti

DIAGNOSA BANDING
  Tumor ganas faring dapat dibanding dengan : 
1.  TBC laring
2.  Sifilis laring
3.  Tumor jinak laring.2,7
4.  Penyakit kronis laring

PENGOBATAN
  Secara umum ada 3 jenis penanggulangan karsinoma  laring yaitu
pembedahan, radiasi dan sitostatika, ataupun kombinasi     daripadanya.
1-3,8,10,11,13-16

I. PEMBEDAHAN
  Tindakan operasi untuk keganasan laring  terdiri dari :8,9,15,16

A. LARINGEKTOMI
1.  Laringektomi parsial
Laringektomi parsial diindikasikan  untuk karsinoma laring stadium I yang tidak
memungkinkan dilakukan radiasi, dan tumor stadium II.
2.  Laringektomi total
Adalah tindakan pengangkatan seluruh struktur laring mulai dari batas atas
(epiglotis dan os hioid) sampai batas bawah cincin trakea.

B. DISEKSI LEHER RADIKAL
  Tidak dilakukan pada tumor glotis stadium dini (T1 – T2) karena
kemungkinan metastase ke kelenjar  limfe leher sangat rendah. Sedangkan tumor
supraglotis, subglotis dan tumor glotis  stadium lanjut sering kali mengadakan
metastase ke kelenjar limfe  leher sehingga  perlu dilakukan tindakan diseksi leher.
Pembedahan ini tidak disarankan bila telah terdapat metastase jauh.2,10

II. RADIOTERAPI 
  Radioterapi digunakan untuk mengobati  tumor glotis dan supraglotis T1 dan
T2 dengan hasil yang baik (angka kesembuhannya 90%). Keuntungan dengan cara
ini adalah laring tidak cedera sehingga suara masih dapat dipertahankan. Dosis yang
dianjurkan adalah 200 rad perhari sampai dosis total 6000 – 7000 rad.2,10
  Radioterapi dengan dosis menengah telah pula dilakukan oleh Ogura, Som,
Wang, dkk, untuk tumor-tumor tertentu.  Konsepnya adalah untuk memperoleh
kerusakan  maksimal dari tumor tanpa kerusakan yang tidak dapat disembuhkan
pada jaringan yang melapisinya.  Wang dan  Schulz memberikan 4500–5000  rad
selama 4–6 minggu diikuti dengan laringektomi total.2

III. KEMOTERAPI
  Diberikan pada tumor stadium lanjut, sebagai terapi adjuvant ataupun
paliativ. Obat yang diberikan adalah cisplatinum 80–120 mg/m2
dan 5 FU 800–1000 mg/m2.3

REHABILITASI
  Rehabilitasi setelah operasi sangat  penting karena telah diketahui bahwa
tumor ganas laring yang diterapi dengan  seksama memiliki prognosis yang baik.
rehabilitasi mencakup  :  “Vocal Rehabilitation, Vocational Rehabilitation  dan  Social
Rehabilitation”.3

PROGNOSA
  Tergantung dari stadium tumor, pilihan pengobatan, lokasi tumor dan
kecakapan  tenaga ahli. Secara umum dikatakan five years survival pada karsinoma
laring stadium I 90 – 98% stadium II 75 – 85%, stadium III 60 – 70% dan stadium
IV 40 – 50%. Adanya metastase ke kelenjar limfe regional akan menurunkan 5 year
survival rate sebesar 50%.2,7,12

LAPORAN KASUS
Seorang  pasien laki-laki, MS, umur 49 tahun datang ke IGD RSUP H. Adam Malik
tgl. 07-10-2003 dengan keluhan utama tidak bisa mengeluarkan suara. Hal ini sudah
dialami os  sejak 1 minggu yang  lalu. Riwayat suara serak (+) sejak 2 tahun yang
5lalu, batuk-batuk (+), dahak  (-), sesak nafas (+) sejak 5 bulan yang lalu sebelum
dilakukan trakeostomi. Sebelumnya os di Opname di RS Pirngadi selama 4 hari dan
dilakukan tindakan trakeostomi karena sesak dan  dinyatakan ada tumor di laring.
Riwayat merokok (+)  ± 2 bungkus dalam 1 hari. Riwayat  minum-minuman
beralkohol (-).
•  Pemeriksaan Fisik
Sensorium    : Compos Mentis
Tekanan darah    : 130/80 mmHg
Nadi    : 90x/i 
Frekuensi pernafasan  : 25x/i
Temperatur   : 370

•  Pemeriksaan THT rutin
-  Telinga    : tidak ada kelainan
-  Hidung     : tidak ada kelainan
-  Tenggorokan  : trakeostomi (+)
•  Diagnosis Sementara  : Suspect tumor laring
•  Terapi   : – IVFD RL s/s Dextrose 5% 20 gtt/I
  – Ampicilin 1 gr / 6 jam
  – Gentamycin 80 mg / 8 jam
•   Rencana :  1. Mikrolaringoskopi optik + biopsi
  2. Periksa laboratorium darah lengkap
  3. Rontgen foto thorax dan EKG
  4. Konsul Penyakit Dalam
  5. Konsul Anestesi
08-10-2003
Pkl : 04.00 WIB
Keluhan : sesak nafas (trakeostomi terpasang)
Vital sign :
TD  : 130/80 mmHg
N : 90 x/i
RR : 30 x/I
Terapi     :  – Bersihkan trakeostomi dengan suction Î sputum (-)
      – IVFD RL s/s Dextrose 5% 20 gtt/i
      – Ampicilin 1 gr / 6 jam
      – Gentamycin 80 mg / 8 jam
      – Dexamethason 1 amp / 8 jam Æ hanya 1 hari saja
11-10-2003
Hasil Laringoskopi Optik :
-  Tampak massa memenuhi supraglotik. Massa merah dan berbenjol-benjol
-  Pita suara tidak dapat dinilai
-  Epiglotis : normal
Rencana    :   -  CT – Scan 
  -  Mikrolaring biopsi Î persiapan darah lengkap, EKG & Foto thorax
13-10-2003
Hasil Pemeriksaan Laboratorium : dalam batas normal
14-10-2003 
  6Hasil pemeriksaan :
-  Foto thorax  : kesan  : tidak dijumpai metastasis paru
-  EKG   : Kesan : Old myocard infark inferior
-  CT- Scan  : tidak dilakukan karena pasien t.a.u
16-10-2003
Hasil konsul interna : tidak ada kontra indikasi untuk dilakukan anestesi umum.
Konsul anastesi : ACC dengan anestesi umum
27-10-2003
Dilakukan operasi mikrolaring + biopsi
Tampak epiglotis oedem dan  hyperemis. Lalu epiglotis diangkat ke atas tampak
massa merah berulkus memenuhi daerah supraglotis
Hasil Pemeriksaan Histopatologi No. PA/B/1462/03, Lokasi : Supra glotik
Makroskopik   :  diterima 2 potong jaringan ukuran seujung beras, konsistensi kenyal
warna abu-abu.
Mikroskopik   :  sediaan tampak jaringan dilapisi epitel dengan inti disorganisasi
pleomorfik, kromatin kasar, sitoplasma sedikit, stroma jaringan ikat.
Kesimpulan :  karsinoma sel skuamous non keratinizing.
30-10-2003
Pasien dikonsulkan ke Sub. Bagian Onkologi THT untuk ambil alih untuk penanganan
selanjutnya.
Oleh Sub. Bagian Onkologi, pasien dianjurkan untuk dilakukan Radiotherapy.
DISKUSI
  Tumor ganas laring merupakan keganasan yang sering dijumpai di bidang
THT. Hal-hal yang saling mempengaruhi kesembuhan penyakit ini antara  lain
kecepatan dan  ketepatan diagnosa, penentuan stadium  tumor, fasilitas dan sarana
yang ada, kondisi pasien serta pilihan pengobatan yang diberikan.
  Pada pasien ini, keluhan yang pertama kali muncul adalah suara serak sejak
dua tahun  lalu, sehingga tumor primer diduga berasal dari daerah glotis. Karena
secara klinis tidak dijumpai pembesaran kelenjar, maka pasien  ini diduga berada
pada stadium II (T2, N0, M0).
  Secara umum penatalaksanaan  tumor ganas laring adalah pembedahan,
radiasi, sitostatika maupun kombinasi daripadanya. Pilihan terbaik untuk pasien ini
adalah radiasi, karena hasil biopsi dari tumor menunjukkan karsinoma sel skuamous
non keratinizing yang bersifat radio sensitif. Keuntungan lain dari radiasi adalah
laring tidak cedera sehingga suara masih dapat dipertahankan. Rehabilitasi setelah
operasi dengan terapi yang seksama memiliki prognosis yang baik. Kerjasama yang
baik dari ahli onkologi, ahli patologi, ahli radiasi onkologi sangatlah diperlukan untuk
memberikan kesembuhan yang optimal. 
KESIMPULAN
  Telah dilaporkan satu kasus tumor  ganas laring yang sudah  dilakukan
mikrolaringoskopi optik + biopsi.

DAFTAR PUSTAKA
1.  Hermani B. Abdurrahman H. Tumor laring. Dalam Soepardi EA, Iskandar N Ed.
Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Bedah Kepala Leher. Edisi
ke-5. Jakarta. Balai Penerbit FKUI. 2001. h. 156-62.
2.  Spector, Ogura JH. Tumor Laring dan Laringofaring.  Dalam. Ballenger JJ,  Ed.
Penyakit Telinga Hidung Tenggorok, Kepala dan Leher. Jilid I. Edisi ke-13. Jakarta
: Binarupa Aksara. 1997. h. 621-77.
3.  Ramalingam KK, Sreeramamoorthy B. A. Short Practice of Otolaryngylogy India :
All  Publisher & Disatributor, 1993. h. 335-43.
4.  Basyiruddin H. Penanggulangan  Karsinoma Laring di Bagian THT RSAPD Gatot
Subroto. Disampaikan pada Kongres Nasional Perhati. Ujung Pandang, 1986. h.
185-93.
5.  Mulyarjo. Hasil Pembedahan pada Karsinoma Laring di UPF THT RSUD DR.
Sutomo Surabaya. Disampaikan pada Kongres Nasional Perhati, Batu Malang, 27-
29 Oktober 1996. h. 1075-9.
6.  Adam GL., IR, Paparella MW. Fundamental of Otolaryngology. Edisi ke-5 ed.
Philadelphia WB. Saunders, 1978. h. 446-7.
7.  Becker W,  Naumann HH, Pfaltz CR. Ear Nose and Throat diseases, A. Pocket
Reference. Edisi ke-2. New York. Thieme Med. 1994. h. 423-32.
8.  Bailey BJ. Early Glottic Carcinoma. Dalam : Bailey BJ. Ed. Head and Neck Surgery
Otolaringology. Vol. 2. ed Philadelphia. JB Lippincot. h. 1313-60.
9.  Lawson W, Biller HFM, Suen JY. Cancer of the Larynx. Dalam Myers EN, Suem JY.
Ed. Cancer of the Head and Neck. Churchill Livingstone.           h. 533-60.
10. Hanna  E, Suen JY. Larynx. Dalam : Closel G, Larson DL, Shah JP,  Essential of
Head and Neck Oncology. New York Thieme, 1998. h. 223-39.
11. Robin PE, Oloffosn J. Tumors of the Laring. Dalam : Hibbert J. Ed. Scott-Browns.
Otolaryngology. Laryngology and Head and Neck Surgery. Vol. 3. Edisi ke-6.
Great Brittain : Butterworth-Heinemann, 1997. h. 5/11/1-43.
12. Shumrick K. Malignant Lesions of  the Larynx. Dalam : Lee KJ, Ed. Text Book of
Otolaryngology and Head and Neck Surgery Elsevier. 1989. h. 647-57.
13. Montgomery WW. Surgery of Upper Respiratory System. Edisi ke-2. Philadelphia.
Lea and Febiger, 1989. h. 533-604.
14. Hanafee WN, Ward PH. The Laring, Radiology, Surgery, Pathology. Vol. I. New
York. Thieme Med, 1990. h. 46-7.
15. Lore JM. An Atlas of Head and Neck Surgery. Edisi ke-3 Philadelphia.  WB
Saunders. 1998. h. 886-937.
16. Wright D. Total Laryngectomy. Dalam : Rob  and Smith. Ballantine  JC, Harrison
DFN Ed. Operative Surgery Nose and Throat. Edisi ke-4. London: Butterworths,
1986. h. 317-46. 
©2004 Digitized by USU digital library  8

 
1 Comment

Posted by on January 25, 2009 in soal soal ujian

 

Mengenal Tumor Ganas Laring

 

21 November 2007

Technorati Tags: ,

Mengenal Tumor Ganas Laring Penemuan kasus-kasus stadium awal atau deteksi dini keganasan laring sangat penting dalam meningkatkan keberhasilan pengobatan keganasan laring. Untuk meningkatkan penemuan kasus-kasus dalam stadium dini keganasan laring, perlu ditingkatkan kepedulian masyarakat dan tenaga kesehatan atas gejala-gejala dini keganasan laring. Laring merupakan bagian paling bawah dari saluran napas atau yang berbentuk limas segi tiga terpancung dengan bagian atas lebih besar dari pada bagian bawah. Kerangka laring tersusun dari satu tulang (hioid) dan beberapa tulang rawan (epiglottis, aritenoid dan krikoid). Gerak laring dilakukan oleh kelompok otot-otot ekstrinsik dan intrinsik. Otot ekstrinsik terutama bekerja pada laring secara keseluruhan sedangkan otot intrinsik menyebabkan gerak di bagian laring sendiri. "Laring terbagi menjadi tiga daerah anatomi yaitu supraglotis, glotis dan subglotis. Kurang lebih 60 persen keganasan laring ditemukan di daerah glottis, 35 persen berasal dari daerah supraglotis dan hanya 5 persen berasal dari subglotis. Pada stadium lanjut biasanya tumor sudah meluas ke glottis, supraglotis dan subglotis atau transglotis sehingga sulit ditentukan asalnya," ujar Prof. dr. Bambang Hermani, Sp. THT-KL(K), dari Ilmu Penyakit THT Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI RSCM). Laring merupakan organ vital pada tubuh manusia yang berfungsi sebagai organ mempertahankan jalan napas, melindungi jalan napas dan paru paru, membantu mengatur sirkulasi, sumber suara atau fonasi, membantu proses menelan, dan mengekspresikan emosi. Adanya gangguan atau kelainan pada laring akan menyebabkan pula gangguan fungsi laring yang dapat menurunkan kualitas hidup, bahkan dapat menyebabkan kematian. "Suara serak adalah gejala dini yang utama pada keganasan laring, terutama bila tumor berasal dari pita suara atau glottis. Ini disebabkan adanya gangguan fungsi fonasi laring akibat ketidakteraturan pita suara, gangguan pergerakan/getaran pita suara dan penyempitan celah pita suara. Seseorang dengan suara serak yang menetap selama dua minggu atau lebih, apalagi mempunyai faktor resiko yang sesuai, harus diwaspadai adanya keganasan laring (glottis). Sementara untuk tumor supraglotis dan subglotis, suara serak bukan merupakan keluhan pertama namun biasanya akan timbul jika tumor sudah menyebar ke pita suara," paparnya. Sesak napas atau dispnea dan napas berbunyi (stridor), lanjutnya, adalah gejala akibat gangguan jalan napas oleh massa tumor serta sudah terjadinya fiksasi gerak pita suara. Adanya gejala-gejala tersebut menjadi tanda tumor sudah masuk ke stadium yang lebih lanjut. "Nyeri menelan batuk dan hemoptisis serta disfagia dapat timbul tergantung dari perluasan tumor. Adanya pembesaran kelenjar getah bening leher dipertimbangkan sebagai penyebaran tumor dan ini menunjukkan tumor sudah stadium lanjut," tandasnya. Penyebab tumor ganas laring sampai saat ini belum diketahui secara pasti. Namun, terdapat berbagai macam faktor risiko yang terkait dengan perkembangan tumor ganas laring. "Rokok adalah faktor risiko yang memiliki kaitan paling kuat dengan keganasan laring maupun keganasan di saluran aerodigestif lain seperti esophagus dan paru. Dari studi yang dilakukan Maier dan DeStefani secara terpisah ditemukan 96,5 persen dan 97,2 persen pasien dengan keganasan laring adalah perokok atau mantan perokok. Penelitian Wynder menyebutkan, terdapat peningkatan risiko sebesar 30 kali pada pria yang merokok sedikitnya satu setengah bungkus sehari selama lebih dari sepuluh tahun sedangkan penelitian yang dilakukan di RSCM pada tahun 1988 didapatkan 89 persen penderita tumor ganas laring adalah perokok berat," terangnya. Alkohol juga merupakan faktor risiko dari keganasan laring. Menurut American Cancer Society tahun 2000, risiko relatif peminum alkohol meningkat lima kali dibandingkan dengan yang tidak minum alkohol sedangkan perokok jika digabung dengan peminum alkohol mempunyai risiko 100 kali dibandingkan dengan yang tidak merokok dan tidak peminum. "Faktor risiko pekerjaan hubungan antara pekerjaan dengan perkembangan keganasan laring jarang ditemukan dan tidak terdokumentasi dengan baik. Tetapi dilaporkan pajanan yang lama dengan debu kayu, asbes, produk tar dan beberapa debu industri kimia juga merupakan faktor risiko terjadinya keganasan laring," tukasnya. Di samping faktor-faktor di atas, diet dan defisiensi vitamin A dan C ditengarai juga menjadi faktor risiko. Mettlin menyebutkan, terdapat peningkatan 4,75 kali lipat pada orang yang mengonsumsi buah-buahan sayuran kurang dari 40 kali per bulan dibandingkan yang mengonsumsi lebih dari 80 kali per bulan. Selain itu, Gastro Esophageal Reflux Disease (GERD) dan Human Papilloma Virus (HPV) juga dilaporkan sebagai salah satu faktor risiko. Tumor ganas laring, dia menambahkan, dapat dijumpai di berbagai belahan dunia dengan insiden yang bervariasi. Menurut laporan The American Cancer Society tahun 2006 di Amerika tercatat 12.000 kasus baru dan 4740 kasus meninggal karena tumor ganas laring. Pusat Kanker Nasional Amerika melaporkan 8,5 kasus karsinoma laring ditemukan per 100.000 penduduk laki-laki dan 1,3 kasus per 100.000 penduduk wanita per tahun. Di beberapa negara Eropa tumor ganas laring merupakan tumor ganas terbanyak di bidang THT-KL. Sementara laporan WHO yang mencakup 35 negara memperkirakan 1,5 orang dari 100.000 penduduk meninggal karena tumor ganas laring. "Di Indonesia angka kekerapan tumor ganas laring belum dapat didata secara pasti, tetapi dapat diperkirakan mencapai kurang lebih 1 persen dari semua keganasan dan menempati urutan ketiga tumor ganas terbanyak di bidang THT setelah tumor ganas nasofaring dan tumor ganas hidung dan sinus paranasal. Di Bagian THT FKUI RSCM selama periode 1982 sampai 1987 dilaporkan proporsi tumor ganas laring sebesar 13,8 persen dari 1030 kasus keganasan THT. Sampai saat ini ditemukan rata-rata 40 kasus per tahun sedangkan di Bandung 20 kasus, Denpasar 6 kasus, Malang 12 kasus dan Surabaya 25 kasus," dia menjabarkan. Untuk jenis kelamin, imbuhnya, perbandingan penderita laki-laki dan perempuan berkisar antara 11:1 di mana terbanyak pada usia 45-60 tahun. Namun, akhir-akhir ini jumlah penderita perempuan semakin meningkat, yang menurutnya kemungkinan diakibatkan adanya kecenderungan makin banyak perempuan yang merokok. "Di Indonesia umumnya penderita tumor ganas laring datang berobat sudah dalam stadium lanjut. Data di RSCM 80 persen penderita pertama kali didiagnosis dalam stadium 3 dan stadium 4. Stadium penyakit pada waktu pertama kali didiagnosis akan mempengaruhi metode pengobatan, kecacatan dan harapan hidup penderita," tegasnya. Secara umum, dia menyatakan, terdapat tiga jenis penatalaksanaan keganasan laring yaitu operasi, radiasi dan kemoterapi atau kombinasi dua atau tiga modalitas tersebut. Pengobatan yang dipilih bergantung pada stadium perluasan invasi tumor menurut klasifikasi TNM sedangkan tindakan operasi yang dilakukan dapat berupa pengangkatan seluruh organ laring (laringektomi total) atau pengangkatan sebagian dari organ laring (laringektomi parsial). "Pada laringektomi parsial dapat berupa hemilaringektomi atau supraglotik laringektomi, tergantung dari lokasi dan penyebaran tumor. Laringektomi total sebagai terapi pada pasien keganasan laring akan menyebabkan kecacatan. Dengan pengangkatan seluruh organ laring beserta pita suara yang ada di dalamnya, maka pasien akan menjadi tidak dapat bersuara atau afoni dan selanjutnya bernapas melalui lubang di leher berupa stoma permanen," katanya. Dia mengutarakan, secara umum rehabilitasi pascaoperasi bertujuan agar pasien dapat bersosialisasi dan berkomunikasi kembali dan bisa hidup mandiri. Unsur terpenting dalam rehabilitasi adalah rehabilitasi suara, di samping rehabillitasi secara psikolgis. Rehabilitasi suara dapat dilakukan melalui teknik ‘esophageal speech’ yaitu dengan cara menelan udara dan mengumpulkannya di dalam esophagus/lambung kemudian dikeluarkan secara terkontrol untuk menghasilkan suara. "Untuk pasien yang tidak dapat mempelajari teknik ‘esophageal speech’ dapat memakai alat bantu berupa vibrator listrik untuk menghasilkan suara. Selain itu, salah satu usaha untuk mengatasi afoni adalah dengan memasang ‘voice prostese’ pada daerah tracheaesophageal. Pemasangan ini dapat dilakukan pada waktu operasi (primer) atau beberapa saat setelah operasi (sekunder). Cara ini dapat menghasilkan suara paling baik, hanya kendalanya adalah harganya yang masih relatif mahal dan memerlukan perawatan khusus," sahutnya.

KBI Gemari

 
Leave a comment

Posted by on January 25, 2009 in laring

 

Papiloma Laring

Definisi
Papiloma laring adalah tumor jinak yang sering dijumpai pada anak-anak, papiloma laring biasanya terletak di saluran nafas yang sering kali menimbulkan sumbatan jalan nafas yang dapat mengakibatkan kematian. Dulu papiloma ini sering dikenal sebagai kutil di tenggorok pada abad ke 17.  Papiloma merupakan tumor laring jinak pada anak tetapi juga sering ditemukan pada orang dewasa. papiloma laring sering mempunyai kemampuan untuk tumbuh kembali setelah pengangkatan dan meluas ke jaringan sekitarnya

Epidemiologi
Angka kejadian  papiloma laring sering dijumpai anak-anak 80% pada usia kelompok usia di bawah 7 tahun.

Patogenesis
Etiologi papoiloma laring hingga kini belum diketahui secara pasti, tetapi dari penelitian diduga bahwa virus HPV (Human Papiloma Virus) tipe 6 dan 11 berperan terhadap terjadinya papiloma laring. Diduga adanya hubungan antar infeksi HPV genital pada ibu hamil dan papiloma laring pada anak, hal ini dibuktikan dengan adanya virus HPV tipe 6 dan 11  pada kondiloma genital, walaupun penemuan diatas menunjukan peran infeksi virus pada papiloma laring. Tetapi ada faktor lain yang berperan, mengingat papiloma ini dapat menghilang di saat pubertas.
Teori lainnya yang dikemukakan adalah teori faktor hormonal dan beberapa faktor penyebab papiloma laring yaitu sosial ekonomi rendah dan hygene yang buruk. Infeksi saluran nafas kronik dan kelainan imunologis.

Pada awalnya gejala-gejala yang ditemukan berupa gangguan fonasi berupa suara yang serak pada anak, gejala bisa lebih berat sehingga suara tangisan anak dapat terdengar abnormal hingga anak tidak dapat bersuara sama seakli. Bila papiloma sangat besar dapat menyebabkan gangguan pada system pernafasan yaitu batuk, sesak, ngorok saat menghirup nafas.  Sumbatan pada saluran nafas dapat dibagi menjadi 4 bagian menurut criteria jakson

  • Jakson I ditandai dengan sesak, stridor (ngorok) inspirasi ringan, penarikan pada sela iga
    Jakson II sesuai dengan gejala jakson I tetapi diperberat dengan retraksi supra dan infra klavikula, sianosis ringan dan pasien tampak gelisah.
    Jakson III sesuai dengan gejala jakson II ditambah dengan retraksi interkostal, epigastrium dan sianosis lebih berat
    Jakson IV, sesuai dengan gejala jakson III ditambah dengan wajah yang tegang dan terkadang gagal napas.

Tatalaksana
Beberapa penatalaksanaan dalam papiloma laring memiliki prinsip yang sama, yakni menghilangkan papiloma dan menghindari kejadian berulang , beberapa terapi yang dapat digunakan pada papiloma laring adalah.

Technorati Tags: ,

Terapi bedah

Terapi medikamentosa

Pemberian obat seperti anti virus , hormone, steroid, dan podofilin topikal

Imunologis

Supportif dengan menggunakan interferon

Foto dinamik

Menggunakan DHE sebagai agen yang menyebabkan toksik yang secara selektif menghancurkan sel-sel tertentu

 
Leave a comment

Posted by on January 25, 2009 in laring

 
 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.